Tendik

4 Kompetensi Yang Kudu Dikuasai seorang GURU

Posted on

Untuk menjadi seorang guru seseorang harus menguasai 4 kompetensi yang telah ditetapkan oleh pemerintah, yaitu …

1.  Kompetensi Paedagogi ada 7 kemampuan yang tercakup dalam kompetensi ini yaitu

  • Mengenal karakteristik anak didik
  • Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik
  • Pengembangan kurikulum
  • Kegiatan pembelajaran yang mendidik
  • Memahami dan mengembangkan potensi
  • Komunikasi dengan peserta didik
  • Penilaian dan evaluasi

2.  Kompetensi Sosial, meliputi :

  • Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia
  • Menunjukkan pribadi yang dewasa dan teladan
  • Etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru

3.  Kompetensi kepribadian , meliputi

  • Bersikap inklusif, bertindak obyektif, serta tidak diskriminatif
  • Komunikasi dengan sesama guru, tenaga pendidikan, orang tua peserta didik, dan masyarakat

4.  Kompetensi Profesional, meliputi :

  • Penguasaan materi struktur konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu
  • Mengembangkan keprofesian melalui tindakan reflektif

Diklat Prajab

Posted on

foto bareng kepala BKD DKI JakartaSetelah penatian cukup lama,yakni sejak tahun 1999,akhirnya tahun 2011 dipanggil juga mengikuti diklat pra jabatan golongan III, bertempat di Badan Diklat Daerah Provinsi Jawab Barat,jalan windu no.26. Suka, duka,lelah, capek, semua campur menjadi satu. Dua puluh satu hari saya perjuangan,demi pengabdian sepanjang hayat.

 

Pembelajaran Dengan Metode Tutor Sebaya (Peraya)

Posted on Updated on

tutor sebayaDalam pembelajaran KKPI (komputer) di SMK sebenarnya telah banyak upaya yang dilakukan oleh guru yang mengajar untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Namun usaha itu belum menunjukan hasil yang optimal. Rentang nilai siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai terlalu mencolok. Untuk itu perlu diupayakan pula agar rentang nilai antar siswa tersebut tidak terlalu jauh yaitu dengan memanfaatkan/memberdayakan siswa yang pandai untuk menularkan kemampuannya pada siswa lain yang kemampuannya lebih rendah. Tentu saja guru yang menjadi perancang model pembelajaran harus mengubah bentuk pembelajaran yang lain.

Pembelajaran tersebut adalah pembelajaran tutor sebaya. Kuswaya Wihardit dalam Aria Djalil (1997:3.38) menuliskan bahwa “pengertian tutor sebaya adalah seorang siswa pandai yang membantu belajar siswa lainnya dalam tingkat kelas yang sama”. Sisi lain yang menjadikan KKPI dianggap siswa pelajaran yang agak sulit adalah bahasa yang digunakan oleh guru dan kemampuan dasar mereka dalam pelajaran komputer minim saat SMP dulunya. Dalam hal tertentu siswa lebih paham dengan bahasa teman sebayanya daripada bahasa guru. Siswa juga lebih enak dan tidak canggung dalam bertanya tentang hal yang tidak/belum dipahaminya pada teman sendiri. Itulah sebabnya pembelajaran tutor sebaya diterapkan dalam proses pembelajaran KKPI (komputer) di kelas X materi dasar-dasar komputer dan software pengolah kata di SMK.

Hisyam Zaini dalam Amin Suyitno (2004:24) menyatakan bahwa “Metode belajar yang paling baik adalah dengan mengajarkan kepada orang lain. Oleh karena itu, pemilihan model pembelajaran tutor sebaya sebagai strategi pembelajaran akan sangat membantu siswa di dalam mengajarkan materi kepada teman-temannya.”

Menurut Miller (1989) dalam Aria Djalil ( 1997:3.34) berpendapat bahwa “Setiap saat murid memerlukan bantuan dari murid lainnya, dan murid dapat belajar dari murid lainnya.” Jan Collingwood (1991:19) dalam Aria Djalil (1997:3.34) juga berpendapat bahwa “Anak memperoleh pengetahuan dan keterampilankarena dia bergaul dengan teman lainnya.” Pada standar kompetensi sistem operasi dan mengoperasikan software pengolah kata pada kelas X SMK Negeri 38 Jakarta peserta didik dibawa pada model pembelajaran tutor sebaya dalam kelompok-kelompok belajar / kelompok bimbingan. Setiap kelompok terdiri atas 3 sampai dengan 5 peserta didik dengan 1 (satu) orang pembimbing / mentor.

Menurut Hisyam Zaini (2001:1) (dalam Amin Suyitno, 2004:34) maka langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.

1. Pilih materi yang memungkinkan materi tersebut dapat dipelajari siswa secara mandiri.
2. Bagilah para siswa menjadi kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Siswa-siswa pandai disebar dalam setiap kelompok dan bertindak sebagai tutor sebaya, atau disebut “mentor”.
3. Masing-masing kelompok diberi tugas mempelajari satu sub materi / kompetensi dasar. Setiap kelompok dibantu oleh siswa yang pandai sebagai tutor sebaya.
4. Beri mereka waktu yang cukup untuk persiapan, baik di dalam kelas maupun di luar kelas
5. Setiap kelompok melalui wakilnya menyampaikan sub materi / pembahasan sesuai dengan tugas yang telah diberikan. Guru bertindak sebagai nara sumber utama.
6. Untuk memotivasi siswa yang bertindak selaku mentor, maka saat ulangan praktik mereka para mentor tidak ikut ulangan, tapi hanya memantau/mengamati/menggunakan komputer yang tidak dipakai ulangan untuk mereka gunakan (boleh internetan, atau fb-an). Nilai mereka para mentor diambil dari nilai teman yang dibimbingnya. Contoh jika ada 4 siswa yang dibimbing, lalu keempatnya mendapat nilai di atas KKM, maka mentor mendapat nilai sesuai dengan nilai tertinggi dari 4 siswa yang dibimbingnya. Namun jika ada 1 siswa/temannya yang mendapat nilai di bawah KKM, maka mentor tersebut mendapat nilai sama dengan temannya yang nilai terendah tadi (di bawah KKM).

Dengan demikian siswa yang bertindak sebagai mentor akan berusah semaksimal mungkin membimbing temannya agar bisa / menguasai materi yang diberikan oleh guru. Sebab jika tidak ia akan mendapat nilai terendah / di bawah KKM, jika ada teman yang dibimbingnya mendapatkan nilai terendah.

Agar model pembelajaran tutor sebaya mencapai tingkat keberhasilan yang diharapkan, Miler (dalam Aria Djalil 1997:2.48) menuliskan saran penggunaan tutor sebaya sebagai berikut.

1. Mulailah dengan tujuan yang jelas dan mudah dicapai.
2. Jelaskan tujuan itu kepada seluruh siswa (kelas). Misalnya : agar pelajaran matematika dapat mudah dipahami.
3. Siapkan bahan dan sumber belajar yang memadai.
4. Gunakan cara yang praktis.
5. Hindari kegiatan pengulangan yang telah dilakukan guru.
6. Pusatkan kegiatan tutorial pada keterampilan yang akan dilakukan tutor.
7. Berikan latihan singkat mengenai yang akan dilakukan tutor.
8. Lakukanlah pemantauan terhadap proses belajar yang terjadi melalui tutor sebaya.
9. Jagalah agar siswa yang menjadi tutor tidak sombong.

dari berbagai sumber diantaranya: http://baliteacher.blogspot.com/2010/02/pembelajaran-dengan-methode-tutor-teman.html

Dilema Perpustakaan Sekolah

Posted on Updated on

perpus
perpus

Tujuan pendidikan nasional di Indonesia tercermin dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Aplikasi dari tujuan tersebut di sekolah diterapkan dalam berbagai visi dan misi yang ada. Antara satu sekolah dengan sekolah lain tidaklah sama, namun memiliki tujuan akhir yang sama. Salah satu sarana prasarana  yang ada dalam mewujudkan tujuan tersebut adalah perpustakaan sekolah.

Sebelum adanya UU Nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan, profesi pustakawan sekolah dianggap sebagai profesi bagi guru buangan. Artinya guru yang kinerjanya kurang bagus, atau guru yang jumlah jam mengajarnya sangat sedikit. Akibatnya menjadi stigma bahwa kalau guru yang berprofesi sebagai pustakawan adalah guru yang “trouble maker” atau biang kerok di sekolah. Realita ini membawa dampak bagi maju dan tidaknya perpustakaan sekolah tersebut. Sebab yang mengelola perpustakaan adalah para guru yang tidak memiliki pendidikan pustakawan, serta yang kurang kompeten dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang guru. Dampaknya siswa menjadi enggan untuk datang ke perpustakaan, karena suasana yang kurang yang nyaman, koleksi yang tidak diperbaharui, dsb. Bahkan ada yang menganggap perpustakaan sekolah sebagai gudang buku.

Namun dengan lahirnya UU Nomor 43 tahun 2007 memberikan jaminan bahwa profesi pustakawan adalah profesi yang mulia, yang sebenarnya tidak boleh sembarang orang memegangnya. Ditambah ke depan perpustakaan sekolah harus memiliki standar yang ditetapkan sesuai dengan Bab III pasal 11 UU No.43 tahun 2007, yaitu :

  1. Standar koleksi
  2. Standar sarana prasarana
  3. Standar pelayanan
  4. Standar tenaga perpustakaan
  5. Standar penyelenggaraan dan
  6. Standar pengelolaan

Dengan dipenuhi semua kriteria di atas, diharapkan minat siswa dan guru untuk berkunjung, membaca dan meminjam koleksi perpustakaan semakin tinggi. Yang akibatnya pengetahuan dan wawasan siswa ataupun guru akan bertambah.

Agar perpustakaan sekolah bisa menjalankan aktifitasnya maka, sekolah ataupun madrasah mengalokasikan dana paling sedikit 5% dari anggaran belanja operasional sekolah/madrasah atau belanja barang di luar belanja pegawai dan belanja modal untuk pengembangan perpustakaan (Bab VII pasal 23 ayat 6). Tapi dalam realita sehari-hari tidak/belum semua sekolah menerapkan apa yang ada dalam UU tersebut. Tidak sedikit perpustakaan sekolah yang hidup segan mati pun tak mau. Ruangan yang jauh dari standar, anggaran yang sangat terbatas, kemampuan pengelola yang minim pengetahuannya. Sementara tidak ada sangsi apapun dari  pemerintah ataupun dinas yang berwenang bagi sekolah yang belum menerapkan UU 43 tahun 2007 tersebut. Sekolah masih  sibuk dengan anggaran untuk pengembangan IT, sekolah berstandar nasional, standar internasional. Padahal untuk menjadi sekolah yang bertandar nasional/internasional salah satunya memiliki perpustakaan sekolah yang standar, yaitu sesuai dengan UU No.43 tahun 2007.

Menyikapi peluang, DETIK YANG BERARTI

Posted on

Anda pernah mendapat peluang dan harus melengkapi berbagai persayaratan dalam hitungan hari atau jam, bagaimana sikap Anda?

“Maaf, Saya tak mungkin selesaikan itu semua, mengurus berkas tak cukup waktu singkat”
“Saya sibuk, dan tak berminat”
“Saya punya tanggungan keluarga, bagaimana jika haruis pergi dalam waktu lama”
dan berjuata ina-inu benarkan alasan tak berani ambil resiko

Saya punya kenangan begini”

Suatu ketika
sahabat Saya memanggil
di selasar Sekolah

“Pak Dedi, Saya baru saja dapat copy edaran beasiswa S2 ITB”, katanya berbinar
“Peluang hebat itu, ambil aja Pak”, jawab Saya,
“Sayang Pak, jadwalnya penerimaan berkas dah lewat dua hari yang lalu”, dia memelas,
“Segera Anda berangkat ke Dikmenjur, katakan yang terjadi minta perpanjangan waktu untuk masukkan berkas Anda”, saran Saya padanya.

Keesokan harinya dia jumpai Saya seraya berkata;
“Saya boleh memasukkan berkas besok, tapi sertifikat TOEFL-nya Saya belum punya”, dengan nada lirih
“Lengkapi semua persyaratan yang bisa dipenuhi hingga hari ini, kecuali TOEFL. Lalu, jangan terlewat besok harus sampai ke Senayan”, kembali Saya menyemangati.
“Tapi nanti kalo di tes TOEFL saya kecil deh kaya’nya”, dia pesimis
“Jalani dulu Pak, kebanyakan mahasiswa S2 itu memang jadi masalah, yg penting berkas Anda masuk”, beliau berlalu siapkan bermacam berkas.

Kabar gembira Saya terima darinya keesokkan hari,
“Saya bisa langsung tes ke Bandung Pak Dedi”, dengan nada riang
“Selamat, itu langkah awal yang baik, Persiapkan diri Anda terutama kesehatan”, sambil ingatkan agar tak terlambat tiba dilokasi tes.

Sekian tahun tak jumpa, kini sahabat Saya itu telah bertambah panjang namanya dan bertambah kesibukkan bekerja di beberapa tempat yang membutuhkan kualifikasi S2.

Selamat pagi Pembaca, peluang apa yang Anda dapat hari ini?

Membedakan Guru dan Topeng Monyet

Posted on Updated on

itu-itu saja
itu-itu saja

Anda pernah lihat topeng monyet beraksi?
Monyet melakukan berbagai aksi
pergi kepasar membawa keranjang,
berperang bawa senjata,
bekerja membawa pacul atau gerobak,
menari kuda lumping,
memakai topeng, bermain gitar
dan masih banyak lagi

tampak hebat
dengan iringan musik tradisional hingga keyboard,
apakah benar hebat
hingga banyak orang bersedia membayar?
sesungguhnya kemampuan monyet itu
hanya sebatas yang kita lihat
coba Anda perintahkan lakukan yang lain
monyet itu tak bisa
karena monyet mengulang-ulang terus
apa yang dia pentaskan

Lihatlah para guru
tampil percaya diri
berseragam dan beratribut
orasinya bagus penuh kata-kata bijak

Coba perhatikan seorang guru
tiga tahun terakhir
adakah perubahan dalam hal;
cara berbicara, cara memandang persoalan,
cara mengajar, cara bersikap,
keterampilan berhubungan dengan bahan ajar,
pemanfaatan sumber belajar, kemempuan berkomunikasi,
kemampuan pemanfaatan teknologi, dan lainnya

Ach …
mereka umumnya statis
setelah lulus sarjana
merasa tak perlu belajar lagi,
merasa nyaman dengan posisi dan kedudukannya,
tak mau berubah untuk lebih baik,
tak berani berkorban untuk kemajuan,
ingin menerima banyak, makin sedikit memberi

Sejak awal jadi guru
materi yang diajar tak berubah
kandungan bahan ajar tak diperbanyak
perkembangan teknologi tak dipedulikan,
alumni dapat kerja atau kuliah tak mau tahu,
sementara harga diri terus diangkat
tunjangan ini itu diperjuangkan
negara harus bayar mahal
profesi yang mencerdaskan anak bangsa
apakah bangsa ini makin cerdas?

Saya guru
sedang berfikir perbedaaan saya
dengan topeng monyet
Bagaimana dengan Anda?

Image: hobbygue.multiply.com

Buka Puasa K3SK

Posted on Updated on

Senin 8 September 2008 Pengurus K3SK dan Pengurus MGMP UN SMK Jakarta Pusat mengadakan rapat dan buka puasa di SMK Negeri 38. Acara dimulai pukul 15.00 WIB yang dengan mendengar pengarahan dari  Bapak Edi S (pengawas). Setelah itu diadakan pemaparan dari pengurus K3SK. Sesi terakhir diadakan rapat terpisah, K3SK sendiri dan MGMP UN SMK di ruang tersendiri. Rapat berakhir pukul 17.00 dengan istirahat shalat Ashar dan menunggu waktu berbuka puasa bersama. Dari sekian orang Kepala Sekolah yang hadir ada satu yang sangat saya nantikan yaitu Bapak Dedi Dwitagama, beliau tidak dapat hadir karena ada acara di tempat lain. Padahal saya ingin bertanya banyak pada beliau perihal blog…mudah-mudahan di lain kesempatan,Insya Allah…

Berikut beberapa foto kegiatan tersebut ….