Pengalaman Mengimplementasikan Literasi di Sekolah

Literasi dua bulan terakhir menjadi bahan perbincangan di dunia pendidikan, terutama di DKI Jakarta. Kenapa ? Sebab sejak 27 Januari 2016 kalau tidak salah DKI Jakarta menjadi salah satu provinsi yang dicanangkan sebagai provinsi literasi di Indonesia. Indonesia (katanya) menempati urutan 64 dari 65 negara yang tergabung dalam gerakan literasi dunia.

Sungguh sesuatu yang memperihatinkan kalau melihat dari urutan, yakni nomor 2 dari bawah.

Namun, sampai saat tulisan ini dibuat, saya sebagai seorang guru belum memahami 100% apa itu LITERASI dan apa pula yang namanya GERAKAN LITERASI. Saya juga belum pernah mengikuti diklat/pelatihan/seminar tentang gerakan literasi. Saya baru sedikit memahami setelah sehari sebelum tulisan ini dibuat, tepatnya hari Jumat tanggal 15 April 2016, ba’da menunaikan shalat Jumat, saya membuka website direktorat SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Disana tertulis “Pedoman Gerakan Literasi di SMK”. Akhirnya saya download dan cetak untuk saya baca dan pelajari. Namun karena kesibukan saya hanya membaca secara sepintas tentang pedoman gerakan literasi di SMK tersebut. Dari pedoman tersebut, ternyata apa yang saya lakukan di sekolah dalam kapasitas sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan ternyata merupakan gerakan literasi di sekolah. Apakah yang saya lakukan ?

Pertama, saya berkoordinasi dengan wakil kepala sekolah bidang kurikulum untuk melakukan “membaca 15 menit” di awal sebelum memulai pelajaran jam pertama. Hal awal memang sulit sebab memerlukan persetujuan dari semua guru, terutama para guru yang jam pertama terambil selama 15 menit. Namun dengan dukungan Kepala Sekolah secara penuh hal tersebut bisa terlaksana sampai dengan saat ini. Kendala yang dihadapi saat awal adalah koleksi buku fiksi ataupun nonfiksi yang dimiliki perpustakaan sangat terbatas. Sementara jumlah siswa jauh melebihi jumlah buku yang dimiliki. Akhirnya saya pun menerapkan bahwa setiap siswa wajib membawa buku bacaan, selain komik, cergam, sebaiknya yang bisa membawa manfaat/motivasi. Seperti buku – buku novel, sejarah perjuangan, biografi seseorang, pengetahuan umum/praktis.

Setiap guru di akhir sesi membaca 15 menit diminta menunjuk satu atau dua orang siswa secara acak untuk menceritakan tentang buku yang dibacanya, dengan terlebih dahulu menyerahkan buku yang dibacanya pada guru di kelas tersebut. Guru bisa menanyakan halaman mana, atau bab/bagian mana yang tadi dibaca, kemudian menceritakan kembali di depan kelas. Bagi siswa yang tidak membaca akan ketahuan pada saat dia diminta menceritakan di depan kelas. Dia tidak akan bisa menceritakan tentang apa baru saja dia baca. Dengan kata lain bahwa siswa tersebut sudah melakukan ketidakjujuran alias berbohong. Sangsi yang diberikan bagi siswa tersebut akan diminta untuk menuliskan resume/kesimpulan ataupun jika perlu menulis ulang tentang yang seharusnya dia baca di buku tulis khusus tentang “membaca  15 menit” di rumah. Di buku tersebut juga harus ditanda tangani oleh orang tua siswa tersebut. Kemudian dia bawa esok hari untuk diserahkan pada wali kelas  serta diketahui oleh guru yang memberikan sangsi ataupun guru yang mengajar pada esok hari.

Sumber gambar https://www.google.co.id/search?q=gerakan+literasi+sekolah&biw=1352&bih=674&source=lnms&tbm=isch&sa=X&sqi=2&ved=0ahUKEwjF_4bXjJrMAhXIoJQKHR4CAEkQ_AUIBigB#imgrc=pkVv1rwTWy4vrM%3ADitahap – tahap awal pelaksanaan gerakan membaca 15 menit, masih banyak siswa yang tidak membawa buku bacaan. Seminggu pertama masih diberikan toleransi, karena masih dianggap sebagai tahap sosialisasi. Namun pada minggu kedua jika ada siswa yang masih tidak membawa bahan bacaan, maka akan dimasukkan dalam pelanggaran siswa, dengan poin pelanggaran 5.  Alhamdulillah perlahan tapi pasti siswa mulai menikmati kegiatan/gerakan membaca 15 menit.

Untuk mengantisipasi siswa yang tidak membawa buku bacaan, baik karena sengaja atapun karena tertinggal, maka saya meminta petugas perpustakaan untuk menurunkan koleksi bacaan sesuai dengan yang saya minta. Kemudian buku tersebut diletakkan dalam sebuah lemari yang terkunci. Pelaksanaannya adalah saya meminta guru piket untuk membuka lemari, meminta siswa mencatat buku yang dipinjam siswa.

Saya menyediakan buku peminjaman yang berisi antara lain : No, Hari, tanggal, Nama Siswa, Kelas, Alasan tidak membawa buku, Judul Buku, Resume Buku, Tanda Tangan siswa, tanda tangan guru piket.

Setiap siswa di kelas juga saya meminta menyediakan satu buku tulis yang khusus berisi tentang judul yang dibaca, penerbit, pengarang dan bab/ bagian yang dibacanya. Wali kelas dan orang tua juga harus tanda tangan di setiap akhir pekan di buku tulis tersebut.

Karena keterbatasan waktu yang diberikan , maka pengalaman mengimplementasikan literasi di sekolah akan saya lanjutkan di tuliskan di kesempatan lain.

 

Jakarta, 16 April 2016

Peserta Gerakan 100 guru menulis

Kusdiyono

(Guru SMK Negeri 38 Jakarta)

Posted in Pendidikan | Tagged , , , , , | Leave a comment

SIMULASI 2 UNBK

Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tahun ini sudah memasuki tahun kedua. Pada tahun 2015 UNBK masih dalam tahap uji coba pada sekolah – sekolah tertentu yang dianggap siap dan mampu untuk menyelenggarakannya. Pada tahun ini semua SMK Negeri Jakarta, sekitar 63 SMK Negeri siap menyelengarakan UNBK, termasuk SMK Negeri 38 Jakarta sebagai salah satu SMK Negeri ada di dalamnya.

UNBK 2016Untuk pelaksanaan UNBK yang akan dilakukan pada tanggal 4 s.d 7 April 2016 yang akan dating, Puspendik selaku penyelenggara dan penanggangung jawab program melakukan uji coba atau simulasi UNBK. Simulasi pertama dilakukan pada media pertengahan Desember yang bertujuan untuk mengecek kemampuan awal system yang ada di pusat maupun daerah. Simulasi hanya dilakukan pada satu mata pelajaran saja, yaitu Bahasa Indonesia.

Simulasi kedua dilakukan mulai tanggal 4 s.d. 29 Februari 2016 yang meliputi mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan Teori Kejuruan (Produktif). Pelaksanaan diserahkan pada sekolah masing – masing , sesuai dengan waktu yang tersedia di sekolah. Yang penting dilakukan pada tanggal tersebut, sebab sekolah sedang disibukkan dengan Ujian Praktik Kejuruan (UTK) atau lebih popular dengan sebutan Ujian Kompetensi Kejuruan (UKK).

Saat bimtek ataupun sharing dengan Bapak Andaru dari Puspendik yang dilakukan di SMKN 1 Jakarta, saya sempat bertanya dan tetap mempertanyakan mengapa saat simulasi 2 UNBK sekolah tidak diberikan hasilnya ? Jawaban beliau simulasi kedua bertujuan sama dengan simulasi pertama , yaitu menguji kemampuan system yang ada , baik di pusat ataupun sekolah.

Bapak Andaru ataupun pihak Puspendik…ini tidak adil, dengan tidak diberikan hasil simulasi kedua UNBK. JIka hasil diberikan, maka akan diperoleh manfaat tambahan, yaitu :

  1. Bagi sekolah memiliki gambaran untuk pemetaan kemampuan anak – anak yang akan ikut UNBK, walaupun soal yang diujikan menggunakan menggunakan soal tahun lalu.
  2. Bagi sekolah untuk membangkitkan motivasi bagi siswa yang nilainya di bawah 55,00
  3. Dengan hasil yang diberikan akan bias disusun langkah dan strategi untuk meningkatkan prestasi / hasil UNBK
  4. Bagi Puspendik, dengan hasil diberikan, lalu motivasi siswa ditingkatkan, maka ada kemungkinan siswa yang memperoleh di atas 55 akan lebih banyak dan dampaknya Ujian Nasional Perbaikan (UNP) tidak akan banyak diikuti oleh banyak siswa.

UNBKTulisan ini hanyalah ungkapan saya sebagai seorang proctor di SMK Negeri 38 yang ingin melihat tingkat kelulusan siswa SMK kelas XII naik signifikan, yang dibuktikan dengan perolehan hasil UNBK yang bias jauh di atas tahun lalu.

Terima kasih untuk anda yang sudah berkenan membacanya

Tulisan yang sama bisa dibaca di http://http://smkn38jakarta.sch.id/html/index.php?id=artikel&kode=42

Posted in Pendidikan | Tagged , , , | 1 Comment

Tak Terasa…

Tak terasa…

Delapan belas tahun sudah pengadianku

Di sekolah yang kucintai

Di sekolah yang kubanggakan

Di sekolah tempatku meniti karir dari awal….

pengadian sebagai honorer

pengabdian sebagai pendidik

sebagai wali kelas

sebagai Pembina

sebagai wakil

sebagai..

Hamba Allah yang akan selalu mengabdi

Di Bumi Allah

 

Suka, duka…

Marah, emosi…

Berdebat, berargumen

Dan Cinta…

Seorang pendidik pada anak-anaknya

Cinta…

Untuk melahirkan generasi Indonesia

Yang berkarya dan bermakna

Cinta…

untuk kemajuan Republik Tiga Delapan

 

Terima kasih semua..

Maaf untuk semua kata

Maaf untuk semua ucap

dan maaf untuk semua perbuatan…

yang pernah kulakukan…jika menyinggung asa

jika membuat luka

jika membuat duka

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

GURU (sekarang)

Guru dengan murid bagaikan ikan dengan air. Keduanya saling membutuhkan. Fungsi guru zaman dahulu adalah mentransfer ilmu yang dimilikinya kepada murid-muridnya. Guru zaman baheula adalah sebagai sumber ilmu. Guru seolah-olah “buku berjalan” yang memiliki pengetahuan tentang segala sesuatu yang tidak dimiliki oleh peserta didiknya bahkan oleh orang kebanyakan.
Bila ada sesuatu masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh masyarakat maka pada zaman dulu orang-orang selalu meminta pendapat guru. Guru adalah manusia segala bisa.
Sekarang paradigma tentang guru sudah berubah. Guru tidak lagi dianggap sumber ilmu pengetahuan atau mengetahui segala sesuatu. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat membuat guru tidak lagi dianggap satu-satunya sumber belajar. Sumber belajar ada dimana-mana, di internet, di buku, di jalan, di rumah, di masjid, di jalan, di perpustakaan, di pasar. di taman, dan lain-lain. Peserta didik bahkan bisa lebih pintar daripada gurunya dalam sesuatu hal. Guru sekarang hanya berfungsi sebagaifasilitator, motivator, katalisator, dan lain-lain bagi peserta didiknya.
Sebagai fasilitator, guru memfasilitasi peserta didiknya. Fasilitas apa saja yang harus dimiliki oleh peserta didiknya. Peserta didik harus memiliki sarana belajar yang memadai misalnya memiliki buku texbook, memiliki LKS, memiliki alat-alat gambar, memiliki alat-alat tulis yang diperlukan, memiliki laptop, memiliki flash disc, dan alat-alat lain sesuai kebutuhan mata pelajarannya.
Sebagai motivator, guru selalu memberi semangat atau motivasi kepada peserta didiknya bahwa pada dasarnya tidak ada manusia yang bodoh didunia ini yang ada hanyalah manusia yang malas. Kalau peserta didik rajin dan disiplin dalam belajar pasti bisa. Oleh sebab itu peserta didik harus rajin belajar dan bekerja keras memahami ilmu yang di terimanya sehingga memperoleh nilai atau hasil yang maksimal. Bila ada peserta didiknya yang mengalami kesulitan dalam belajar , guru dengan ikhlas harus membantunya dan memberi semangat kepada peserta didiknya .
Bila ada murid yang memperoleh hasil belajar yang kurang optimal guru harus tetap memberi motivasi dan memberikan hak remedial teaching kemudian memberikan remedial test sehingga peserta didiknya berhasil.
Sebagai katalisator guru harus memberikan tugas-tugas tambahan diluar jam pelajaran sehingga kemampuan dan wawasan peserta didiknya makin cepat bertambah. Tugas yang diberikan bisa mencari informasi-informasi baru dari internet, membuat resensi buku, membuat karya ilmiah, mengadakan penelitian dan melaporkannya, serta tugas-tugas lain yang relevan dengan mata pelajarannya. Peserta didik tidak lagi menjadi objek tetapi peserta didik harus menjadi mitra gurunya sehingga antara murid dan terjadi interaksi yang harmonis dan menyenangkan.
Posted in Pendidikan, SMKN 38 JAKARTA | Tagged , , | Leave a comment

Sejarah Perkembangan PKn pada masa Transisi Demokrasi

Saat ini pelajaran Pancasila di pendidikan sekolah digabung dalam mata [elajaran Pkn Pancasila dan Kewarganegaraan. Tantangannya adalah sejauh mana efektifitas penanaman karakter Pancasila dengan kurikulum yang dijalankan pendidikan sekolah saat ini?

Dalam era reformasi, tantangan PPKn semakin berat. P4 dipermasalahkan substansinya, karena tidak memberikangambaran yang tepat tentang nilai Pancasila sebagai satu kesatuan.

Dengan adanya perubahan UU No. 2 tahun 1989 yang diubah dengan UU No. 2 tahun2003 tidak dieksplisitkan lagi nama pendidikan Pancasila, sehingga tinggalPendidikan Kewarganegaraan. Begitu pula kurikulum 2004 memperkenalkan istilah Pengganti PPKn dengan kewarganegaraan / pendidikan kewarganegaraan.Perubahan nama ini juga diikuti dengan perubahan isi PKn yang lebihmemperjelas akar keilmuan yakni politik, hukum dan moral.Secara umum, berikut ini disebutkan secara kronologis sejarah  timbulnya  pendidikan kewarganegaraan di Indonesia.

Dalam tatanan kurikulum pendidikan nasional terdapat mata pelajaran yang secara khusus mengemban misi demokrasi di Indonesia, yakni :

  1. Pendidikan kemasyarakatan yang merupakan integrasi negara , ilmu bumi, dankewarganegaraan ( 1954 )
  2. Civics ( 1957/1962 )
  3. Ditingkat perguruan tingi pernah ada mata kuliah Manipol dan USDEK,Pancasila dan UUD 1945 ( 1960-an)
  4. Filsafat Pancasila ( 1970- sampai sekarang )
  5. Pendidikan kewarganegaraan civics dan hukum ( 1973 )
  6. Pendidikan moral atau PMP ( 1975 /1984 )
  7. Pendidikan kewiraan ( 1989-1990-an)
  8. Dan pendidikan kewarganegaraan ( 2000-sekarang)Ada lagi Perkembangan ilmu Pendidikan Kewarganegaraan menurut sumber lain,yaitu
  9. Pendidikan Kewarganegaraan sebagai program kurikuler dimulai dengandiintroduksikannya mata pelajaran Civics dalam kurikulum SMA (1962) yang berisikan materi tentang pemerintahan Indonesia berdasarkan Undang-UndangDasar 1945 (Dept. P&K:1962).
  10. Dalam kurikulum tahun 1968 dan 1969 istilah Civics dan pendidikan kewargaan negara digunakan secara bertukar-pakai (interchangeably).-
  11. Kurikulum SD 1968 digunakan istilah Pendidikan Kewargaan  NegaraDi dalamnya tercakup sejarah Indonesia, geografi Indonesia, dan Civics  (diterjemahkan sebagai pengetahuan kewargaan negara).- Kurikulum SMP 1968 digunakan istilah Pendidikan Kewarganegaraan Negara Berisikan sejarah Indonesia dan Konstitusi termasuk UUD 1945.- Kurikulum SMA 1968 terdapat mata pelajaran Kewargaan Negara yang berisikan materi, terutama yang berkenaan dengan UUD 1945.- Kurikulum SPG 1969 mata pelajaran Pendidikan Kewargaan Negara yangisinya terutama berkenaan dengan sejarah Indonesia, konstitusi, pengetahuan kemasyarakatan dan asasi manusia.
  12. Pada kurikulum 1975 istilah Pendidikan Kewargaan Negara diubah menjadiPendidikan Moral Pancasila (PMP) yang berisikan materi Pancasila sebagaimana diuraikan dalam pedoman Penghayatan dan PengalamanPancasila atau P4.
  13. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang system Pendidikan Nasional  kemudian diperkenalkan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan atau PPKn.
  14. Tahun 1975/1976 muncul mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP)yang visi dan misinya berorientasi padavalue inculcation dengan muatan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Berubahnya Pendidikan Kewargaan Negara(PKN) menjadi Pendidikan Moral Pancasila (PMP) baik menurut Kurikulumtahun 1975/1976 maupun Kurikulum tahun 1984  antara lain karena belum berkembangnya paradigma civic aducation yang melandasi dan memadu pengembangan kurikulum.
  15. Kemudian Kurikulum PMP 1984 menjadi Kurikulum Pendidikan Pancasila danKewarganegaraan (PPKn) tahun 1994, akan tetapi nuansa paradigmatik civiceducation-nya juga belum terasa. Sepertinya pendidikan moral Pancasila yangdisampaikan melalui PPKn di sekolah dan penataran P-4 di berbagai lapisanmasyarakat nyaris tanpa bekas dan tanpa makna (meaningless)
  16. Dengan adanya perubahan UU No. 2 tahun 1989 yang diubah dengan UU No. 2 tahun 2003 tidak dieksplisitkan lagi nama pendidikan Pancasila, sehinggatinggal Pendidikan Kewarganegaraan. Begitu pula kurikulum 2004 memperkenalkan  istilah  Pengganti PPKn dengan kewarganegaraan atau pendidikan kewarganegaraan.  Perubahan nama ini juga diikuti dengan perubahan isi PKn yang lebih memperjelas akar keilmuan yakni politik, hukumdan moral.

Disalin dari sumber : http://www.pusakaindonesia.org/sejarah-perkembangan-pkn-pada-masa-transisi-demokrasi/comment-page-1/#comment-5186

Posted in Kewarganegaraan, Pendidikan, Politik | Leave a comment

Kantin Kejujurana

Awal mula nama tersebut muncul dengan sambutan yang luar biasa. Maksud awal sangat mulia, sebab ide kantin kejujuran dari lembaga pendidikan, yaitu sekolah. Bahkan ada lembaga  yang memberikan reward sampai bantuan. Namun, seiring perjalan waktu, nama “kantin kejujuran” semakin tidak terdengar. Bahkan hampir tak terdengar. Berbagai kantin kejujuran yang ada justru mengalami nasib memprihatinkan, yaitu kebangkrutan. Penyebabnya justru karena ketidakjujuran dari para pembeli ataupun para pengelola kantin.

kantin_jujurTragis, memprihatinkan, justru di lembaga pendidikan ketidakjujuran yang semula diharapkan berdampak lebih besar malah ikut hilang. Kita bayangkan seandainya di Ibukota, Jakarta ada 1000 kantin kejujuran, lalu di setiap kantin kejujuran ada pembeli 100 orang, maka dapat diasumsikan akan ada 100.000 orang yang berperilaku jujur dalam setiap transaksi yang ia lakukan. Kemudian dikalikan 20 hari kerja, maka akan ada 200.000 orang yang berperilaku jujur dalam bertransaksi/berdagang. Jika hal ini berlanjut pada tataran yang lebih luas dan jauh, maka dampaknya tentu luar biasa buat bangsa dan negara.

Namun, sebaliknya jika ternyata kemudian kantin kejujuran mengalami kebangkrutan karena ketidakjujuran pembeli ataupun pengelolanya, maka hal sebaliknya yang akan terjadi…..Mudah-mudahan para pemegang kebijakan bisa memberikan solusi untuk kemajuan anak-anak di negeri ini. Salam kejujuran

Posted in Kewarganegaraan, Pendidikan | Tagged , , , , , | Leave a comment

PIAGAM JAKARTA

Dokumen historis berupa kompromi antara pihak Islam dan pihak kebangsaan dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) untuk menjembatani perbedaan dalam agama dan negara. Disebut juga “Jakarta Charter”. Merupakan piagam atau naskah yang disusun dalam rapat Panitia Sembilan atau 9 tokoh Indonesia pada tanggal 22 Juni 1945.

Kesembilan tokoh tersebut adalah Ir. Sukarno, Drs. Mohammad Hatta, Mr. A.A. Maramis, Abikusno Tjokrosujoso, Abdulkahar Muzakir, H. Agus Salim, Mr. Ahmad Subardjo, Wachid Hasjim, dan Mr. Muhammad Yamin. BPUPKI dibentuk 29 April 1945 sebagai realisasi janji Jepang untuk memberi kemerdekaan pada Indonesia. Anggotanya dilantik 28 Mei 1945 dan persidangan pertama dilakukan keesokan harinya sampai dengan 1 Juni 1945. Sesudah itu dibentuk panitia kecil (8 orang) untuk merumuskan gagasan-gagasan tentang dasar-dasar negara yang dilontarkan oleh 3 pembicara pada persidangan pertama. Dalam masa reses terbentuk Panitia Sembilan. Panitia ini menyusun naskah yang semula dimaksudkan sebagai teks proklamasi kemerdekaan, namun akhirnya dijadikan Pembukaan atau Preambule UUD”5. Naskah inilah yang disebut Piagam Jakarta.

Piagam Jakarta berisi garis-garis pemberontakan melawan imperialisme-kapitalisme dan fasisme, serta memulai dasar pembentukan Negara Republik Indonesia. Piagam Jakarta yang lebih tua dari Piagam Perdamaian San Francisco (26 Juni 1945) dan Kapitulasi Tokyo (15 Agustus 1945) itu merupakan sumber berdaulat yang memancarkan Proklamasi Kemerdekaan dan Konstitusi Republik Indonesia.

Bunyinya adalah seperti berikut:

PIAGAM DJAKARTA

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka pendjadjahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan perikeadilan.

Dan perdjuangan pergerakan Kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat jang berbahagia dengan selamat sentausa mengantarkan Rakjat Indonesia kedepan pintu-gerbang Negara Indonesia, jang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat Rahmat Allah Jang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan-luhur, supaja berkehidupan kebangsaan jang bebas, maka Rakjat Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaannja.

Kemudian dari pada itu membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia jang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah-darah Indonesia, dan untuk memadjukan kesedjahteraan umum, mentjerdaskan kehidupan Bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia jang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Hukum Dasar Negara Indonesia, jang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia jang berkedaulatan Rakjat, dengan berdasar kepada: keTuhanan, dengan kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknja; menurut dan kemanusiaan jang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat-kebidjaksanaan dalam permusjarawaratan perwakilan, serta dengan mewudjudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh Rakjat Indonesia.

Djakarta, 22-6-2605
Ir.Sukarno
Drs. Mohammad Hatta
Mr .A.A. Maramis
Abikusno Tjokrosujoso
Abdulkahar Muzakir
H.A. Salim
Mr Achmad Subardjo
Wachid Hasjim
Mr Muhammad Yamin

Dalam naskah tersebut terdapat antara lain kata-kata: “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Pada sore hari tanggal 17 Agustus 1945, Hatta didatangi oleh seorang perwira angkatan laut Jepang yang menyampaikan keberatan para tokoh Indonesia bagian Timur atas pemakaian kata-kata tersebut, sebab berarti rumusan itu tidak berlaku bagi pemeluk agama lain. Untuk menghindari perpecahan esoknya sebelum sidang PPKI, Hatta mengadakan pembicaraan dengan tokoh-tokoh Islam. Mereka setuju untuk menghilangkan kata-kata tersebut dan menggantinya dengan kata “Yang Maha Esa”, dengan rumusannya menjadi ” Ketuhanan Yang Maha Esa”. Kesepakatan ini diterima oleh sidang PPKI. Piagam Jakarta yang sudah mengalami perubahan itu ditetapkan sebagai pembukaan UUD45.

Piagam Jakarta itulah yang menjadi Mukaddimah (preamble) Konstitusi Republik Indonesia serta Undang-undang Dasar 1945, disusun menurut filosofi-politik yang ditentukan di dalam piagam-persetujuan itu. Piagam Jakarta berisi pula kalimat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, yang dinyatakan tanggal 17 Agustus 1945. Piagam Jakarta itulah yang melahirkan Proklamasi dan Konstitusi.

Disalin dari http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/2352/Piagam-Jakarta

Posted in Pendidikan, Politik | Tagged , , | Leave a comment

Peran Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan sebagai lembaga penyedia ilmu pengetahuan dan informasi mempunyai peranan yang signifikan terhadap lembaga induk serta masyarakat penggunanya. Demikian halnya di dalam lingkungan pendidikan seperti sekolah. Perpustakaan sekolah merupakan pusat sumber ilmu pengetahuan dan informasi yangberada di sekolah, baik tingkat dasar sampai dengan tingkat menengah.

Perpustakaan sekolah harus dapat memainkan peran, khususnya dalam membantu siswa untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Untuk tujuan tersebut, perpustakaan sekolah perlu merealisasikan misi dan kebijakannya dalam memajukan masyarakat sekolah dengan mempersiapkan tenaga pustakawan yang memadai, koleksi yang berkualitas serta serangkaian aktifitas layanan yang mendukung suasana pembelajaran yang menarik.

Dengan memaksimalkan perannnya, diharapkan perpustakaan sekolah bisa mencetak siswa untuk senantiasa terbiasa dengan aktifitas membaca, memahami pelajaran, mengerti maksud dari sebuah informasi dan ilmu pengetahuan, serta menghasilkan karya bermutu. Sehingga pada akhirnya prestasi pun relatif mudah untuk diraih.

Dalam membantu siswa untuk menghasilkan karya yang bermutu, perpustakaan tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan sekolah, terutama melalui kebijakan pimpinan (kepala sekolah), akan memperlancar tugas/kebijakan yang akan dijalankan oleh pengelola perpustakaan sekolah.

Tugas perpustakaan dalam memajukan masyarakat sekolah melalui ilmu pengetahuan dan informasi harus diwujudkan secara efektif dan efisien. Masyarakat sekolah yang menjadi sasaran perpustakaan, mulai dari pihak manajemen sekolah, guru, siswa, pihak orang tua, dan segenap warga sekolah yang lain harus menjadi pintar dengan adanya perpustakaan sekolah. Khususnya siswa, yang menjadi obyek dari pada pembelajaran dan pengajaran, harus dikenalkan betapa pentingnya manfaat dari perpustakaan sekolah. Masyarakat sekolah yang sadar dengan kehadiran perpustakaan akan mewujudkan masyarakat yang gemar membaca/reading society. Begitu ironis ketika kita mengamati hasil dari sebuah penelitian yang menunjukkan dari 50 sekolah yang diteliti, ternyata 8 sekolah diantaranya tidak mempunyai perpustakaan. Bagaimana siswa dapat menghasilkan karya dan mengukir prestasi jika di sekolahnya tidak tersedia perpustakaan?

Memang, proses belajar siswa tidak hanya dilakukan di sekolah. Istilah long life education harus tertanam betul dan diaplikasikan dalam kehidupan siswa sehari-hari. Terutama menanamkan akhlak/nilai-nilai yang baik pada siswa. Perpustakaan dapat mengajarkannya tentang rasa tanggungjawab dalam meminjam dan menjaga koleksi dari kerusakan/hilang, membiasakan aktifitas membaca dalam mengisi jam istirahat, serta kebiasaan baik lain yang tercermin dalam tata tertib maupun peraturan perpustakaan. Pihak sekolah berkewajiban mem-backup peraturan yang dikeluarkan oleh perpustakaan. Diharapkan dengan penanaman akhlak/nilai-nilai yang baik ini, siswa dapat lebih bertanggungjawab dalam kehidupan sosialnya, menjadi taat pada orang tua dan bapak ibu guru, serta menjadi warga masyarakat yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Bukankah hal tersebut juga merupakan prestasi bagi siswa?

Karya yang bermutu dan prestasi hanya bisa diraih dengan adanya kemauan dan kebiasaan siswa untuk terus belajar, lewat membaca di perpustakaan sekolah. Kegemaran membaca yang sudah terbudaya di kalangan siswa, harus diimbangi perpustakaan sekolah dengan menyediakan koleksi yang bermutu dan bervariasi. Bukankah untuk menyediakan koleksi tersebut dibutuhkan anggaran dari pihak sekolah yang tidak sedikit? Bukankah idealnya 5 % anggaran sekolah diserahkan untuk pengembangan perpustakaan?

Setiap mata pelajaran yang diajarkan di sekolah/digariskan dalam kurikulum harus di backup dengan baik oleh perpustakaan. Siswa yang menerima pelajaran di kelas, harus terus dimotivasi untuk terus belajar mengembangkan ilmunya melalui proses membaca di perpustakaan. Misalnya dengan memberi tugas membaca di perpustakaan, menceritakan kembali serta membuat laporan. Dengan menyediakan fasilitas belajar yang menyenangkan, dan kedekatan pustakawan dengan siswa akan membantu proses kenyamanan belajar di perpustakaan. Hasilnya siswa diharapkan bisa menguasai sekaligus mengembangkan mata pelajaran yang diterimanya di kelas. Pihak manajemen sekolah perlu mendukung kebijakan untuk cinta kepada perpustakaan sekolah. Misalnya saja memberi hadiah kepada siswa yang sering membaca di perpustakaan, serta menghimbau kepada guru untuk memotivasi siswa dalam melengkapi informasi dan pengetahuannya demi menunjang proses pendidikan serta daya serap terhadap mata pelajaran. Siswa yang sudah mempunyai motivasi tinggi untuk belajar, tinggal menunggu waktu saja agar dapat berkarya dan berprestasi.

Untuk mencapai tujuannya, perpustakaan sekolah perlu dikelola oleh pustakawan dengan tanggungjawab dan dedikasi yang tinggi terhadap layanan. Pustakawan sekolah harus mempunyai jiwa sabar, serta dituntut untuk memahami apa arti pendidikan sesungguhnya.

Perilaku pustakawan sekolah yang bengis, kurang ramah, serta sifat-sifat negative lain perlu dikikis habis. Sehingga siswa dapat lebih dekat dengan pustakawannya, yang merupakan penasihat siswa dalam belajar, serta mencari informasi dan ilmu pengetahuan.

Pustakawan sekolah juga harus bersifat proaktif dan suka menolong. Siswa yang kurang paham bagaimana cara mengakses sebuah koleksi, misalnya saja cara menelusur buku matematika tulisan Djoko Moesono. Pustakawan sekolah harus telaten dalam mengajarkan penelusurannya. Jika siswa mengetahui lewat judulnya, bisa langsung mengetik/mencari lewat judulnya. Atau kalau siswa lebih tahu siapa pengarang buku matematika tersebut, maka bisa dengan mengetik/mencari djoko moesono. Sehingga siswa lebih suka dan terbiasa dengan belajar, karena literatur yang mereka butuhkan untuk menunjang pelajaran, relatif mudah untuk diketemukan.

Siswa yang dekat dengan pustakawannya, akan mahir dalam mencari dan menggunakan informasi dan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dalam proses penyerapan dan penalaran pelajaran mereka. Siswa yang mudah menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru, merekalah yang mudah pula untuk mengukir prestasi.

Selain membantu siswa dalam mengakses koleksi, pustakawan sekolah harus menyediakan informasi plus dan memberi solusi atas kesulitan siswa dalam belajar. Informasi tambahan yang dibutuhkan siswa, baik itu ilmu pengetahuan dan teknologi baru, atau pun informasi lain seperti lomba karya ilmiah remaja. Informasi yang gress serta teknologi baru akan menarik siswa untuk berduyun-duyun memanfaatkan perpustakaan sebagi pusat sumber informasi dan ilmu pengetahuan. Dengan informasi dan teknologi terbaru itulah, siswa bisa lebih bisa berkiprah dalam meraih prestasi.

Tidak hanya menyediakan informasi paling gress saja, pustakawan juga harus menyiapkan ruang belajar, ruang diskusi, serta ruang untuk penelitian. Dengan adanya diskusi atau pun penelitian yang dilakukan siswa, berarti ada sinkronisasi antara kegiatan belajar di kelas dengan kegiatan nyata di lingkungan masyarakat sekitar. Atau siswa juga bisa mengembangkan bakat dan minatnya. Situasi bahwa belajar di perpustakaan sekolah dengan meja yang berdebu, terbatasnya meja untuk membaca, dan fasilitas yang sangat minim lainnya, harus diubah. Tidak harus perabot yang mahalmahal, cukup sederhana saja. Pustakawan sekolah dan semua pengguna wajibmemelihara dan membersihkan equipment yang ada. Sehingga tidak ada lagi kesulitan dalam belajar dan mengembangkan pelajaran. Siswa dapat belajar dengan nyaman, dan terus dapat berkarya.

Demi ketertiban dan kenyamanan belajar di perpustakaan, pustakawan sekolah harus pandai-pandai membuat jadual tentang pemakaian ruang diskusi, ruang penelitian, sehingga tidak terjadi benturan antara kelas yang satu dengan kelas yang lain. Jadual tersebut dapat diberitahukan kepada guru kelas atau pun guru bidang studi yang bersangkutan. Dengan pengaturan jadual yang tertib, siswa dapat diajarkan bagaimana mengatur waktu belajarnya dengan baik. Demikain pula saat siswa berada di rumah, kebiasaan untuk bisa mengatur waktu belajar, akan membantu siswa, baik dalam penguasaan pelajaran maupun dalam mengembangkan ilmunya di masyarakat.

Selain fasilitas yang cukup memadai dan waktu yang terjadual dengan baik, pustakawan harus bisa mewujudkan suasana belajar yang menarik bagi siswa. Pustakawan harus mengetahui dan sekaligus memahai teori pendidikan dan kaidah pembelajaran. Inovasi dalam memberikan layanan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan harus terus dikembangkan. Sikap acuh tak acuh terhadap siswa, terutama siswa yang membutuhkan bimbingan di perpustakaan harus dibuang jauh-jauh. Komunikasi positif, baik di kalangan anak-anak (siswa sekolah dasar) maupun remaja (siswa sekolah menengah) harus terus dibangun.

Pustakawan sekolah harus ‘dekat’ dengan masyarakat penggunanya, khususnya siswa. Bagaimana pustakawan sekolah bisa dipercaya sebagai tempat ‘curhat’, baik dalam kesulitan belajar atau pun dalam menambah informasi tentang sumber pengetahuan yang belum diajarkan di kelas. Diharapkan segala permasalahan yang terjadi dalam proses belajar mengajar selama di kelas atau di luar kelas, bisa ditemukan jawabannya. Sehingga siswa merasa nyaman, segala problematikanya dapat dicarikan solusi oleh pustakawan sekolah. Bukankan hal tersebut bisa menjadi motivasi siswa dalam berprestasi ?

Di negara tetangga kita, Malaysia, pustakawan lebih besar perannya dalam ikut melaksanakan penelitian yang dilakukan siswa. Selain menyediakan sumber informasi, pustakawan sekolah juga membantu siswa dalam pembuatan laporan penelitian. Tidak hanya itu, ternyata pustakawan di sana juga bertugas untuk membantu bimbingan siswa dalam mengerjakan tugas rumah maupun tugas di sekolah, jika siswa kurang paham terhadap mata pelajaran yang diajarkan di kelas. Kalau hal di atas bisa diterapkan di negara kita, bisa-bisa tiap hari perpustakaan sekolah akan penuh sesak oleh siswa, baik yang ingin membaca, mencari informasi, atau pun melakukan bimbingan belajar. Dalam suasana belajar yang dengan kondusif, semua pihak akan dapat menghasilkan karya yang maksimal serta prestasi yang dapat membanggakan sekolah.

 

Pustakawan sekolah merupakan jaminan tercapainya tujuan pendidikan. Karena lewat bimbingannya, masyarakat sekolah, khususnya siswa akan melek informasi, menjadi terbiasa dengan aktifitas membaca, lebih cerdas, dapat menghasilkan karya yang baik, serta memudahkan siswa dalam meraih prestasi, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.

Pustakawan sekolah harus mahir dalam mengolah dan menata koleksi perpustakaan dengan baik. Sehingga saat koleksi dibutuhkan pengguna, sudah siap tersaji di rak sesuai kode buku/call number. Karena sebagian besar koleksi perpustakaan sekolah berupa buku penunjang kurikulum, maka mutu dari buku-buku itu harus diperhatikan. Karena buku merupakan jendela ilmu pengetahuan yang bisa membuka cakrawala, mampu mengembangkan daya kreatifitas dan imajinasi karena membuat otak lebih aktif mengasosiasikan simbol dengan makna.

Dengan terbiasa membaca buku, siswa akan terasah otak dan pola fikirnya. Membaca harus dijadikan aktifitas siswa sehari-hari. Buku harus dicintai dan bila perlu dijadikan sebagai kebutuhan pokok siswa dalam membantu tercapainya tujuan pendidikan di sekolah. Jika ada kelebihan uang saku, daripada membeli mainan atau jajanan di sekolah, lebih baik membeli buku. Contoh lain dengan membentuk suatu kelompok baca, membeli secara patungan. Buku tersebut bisa dimanfaatkan secara bersama, atau pun bisa didokumentasikan ke perpustakaan sekolah.

Idealnya, setiap perpustakaan sekolah mampu menyediakan minimal 2.500 judul buku. Judul sebesar itu tidak termasuk koleksi lama yang telah dipunyai, akan tetapi koleksi uptodate yang sangat dibutuhkan masyarakat sekolah. Memang terasa cukup berat. Dengan anggaran yang terbatas, perpustakaan sekolah harus menyediakan koleksi uptodate yang sedemikian besar jumlahnya.

Untuk tujuan baik, kita semua harus berusaha bukan? Memang kalau ditanggung sendiri oleh perpustakaan akan terasa berat dan imposible. Bukankah banyak alternative cara pengadaan koleksi untuk mencapai jumlah ideal di atas?? Contoh. Sekolah A dengan keterbatasan dana hanya mampu membeli 1.000 judul buku yang uptodate.1.500 judul yang belum terpenuhi bisa disiasati dengan bekerjasama dengan perpustakaan sekolah B. Untuk jangka waktu 1 bulan koleksi yang ditukar dengan sekolah B sejumlah 500. Dengan perjanjian yang ditetapkan bersama, sekolah A akan mendapat pinjaman sejumlah buku yang sama. Setelah kerjasama selesai, bisa dilanjutkan dengan sekolah C. Begitu seterusnya. Sehingga siswa merasa koleksi yang dibaca di perpustakaan selalu ada yang baru, bacaan mereka terus berganti-ganti. Dengan cara itu, jumlah koleksi perpustakaan bisa melampaui target minimal 2.500 judul buku, walau tidak harus dipunyai sendiri. Dengan bacaan uptodate yang terus berganti, siswa menjadi kaya akan wawasan, ilmu pengetahuan, informasi, tidak gaptek serta menjadi siswa pintar yang mempunyai segudang prestasi.

Kita juga dapat menggunakan pedoman yang dibuat oleh IFLA/UNESCO dalam menyediakan koleksi yang bermutu dan variatif, yaitu rumusan yang menyatakan bahwa setiap siswa mendapatkan jatah 10 judul buku. Angka ini lebih kecil dibandingkan dengan kondisi perpustakaan sekolah yang ada di negara maju seperti Amerika. Di sana, untuk setiap siswa, perpustakaan sekolah mampu menyediakan 40 judul buku.

Akan tetapi, sekali lagi hal itu bisa disiasati. Misalnya saja dengan mendirikan kelompok baca yang terdiri dari 10 siswa. Tiap-tiap siswa membawa 1 buku, sehingga total per kelompok baca berjumlah 10 judul buku yang berbeda. Untuk setiap kelompok baca dijadualkan bisa menyelesaikan seluruh bacaannya dalam waktu 1 minggu. Setelah itu, bisa menceritakan kembali bacaan yang dibacanya, meringkas, atau pun membuat laporannya. Baru kemudian diadakan tukar-menukar bacaan diantara semua kelompok baca yang terbentuk disekolah. Apabila jadual tukar-menukar tersebut sudah terpenuhi, maka dilakukan periode baru, sehingga buku yang beredar di masing-masing kelompok baca akan mengalami peremajaan/pergantian koleksi yang baru. Sehingga siswa akan menjadi terbiasa dengan membaca, memahami setiap bacaan, kaya akan wawasan dan ilmu pengetahuan, yang menjadi prasyarat agar siswa bisa berprestasi.

Untuk menambah koleksi yang bermutu dan variatif, perpustakaan sekolah juga bisa menempuh langkah sebagai berikut. Setiap siswa yang lulus sekolah, diwajibkan untuk menyumbangkan 1 buku untuk dijadikan koleksi perpustakaan. Akan tetapi langkah ini perlu disosialisasikan kepada seluruh siswa, guru, manajemen sekolah, bahkan wali siswa, agar tidak terjadi salah pengertian di kemudian hari. Dengan koleksi yang bermutu dan variatif, diharapkan akan menumbuhkan kegemaran membaca serta dapat meningkatkan kemampuan berbahasa siswa.

Koleksi yang memadai merupakan jaminan tercapainya tujuan pendidikan, khususnya di sekolah. Formasi untuk koleksi di perpustakaan sekolah seyogyanya berisi 60 % mewakili buku non fiksi penunjang kurikulum, sedangkan 40 % berupa novel, majalah, CD, game, video, dsb. Tidak baik jika sebuah perpustakaan sekolah mengisi sebagian besar koleksinya dengan buku non fiksi saja/buku pelajaran semua. Karena siswa juga membutuhkan bacaan sebagai hiburan/refreshing seusai mereka berkutat dengan pelajaran di kelas. Pun demikian, sangat tidak baik juga apabila koleksi perpustakaan diisi dengan banyak buku-buku fiksi. Bukankah perpustakaan tidak sama dengan persewaan komik di pinggir-pinggir jalan?? Yang bisa melalaikan siswa dari tujuan utamanya untuk belajar di sekolah ??

Sesekali perpustakaan sekolah, harus mencoba untuk mengadakan penelitian ‘kecil-kecilan’ untuk lebih meningkatkan layanan kepada masyarakat sekolah. Misalnya saja bekerjasama dengan guru dalam menyebarkan angket kepada siswa, mengenai jenis-jenis bacaan yang disukai siswa. Hasil daripada angket tersebut bisa menjadikan masukan perpustakaan sekolah khususnya, maupun pihak manajemen dan guru. Memahami akan kebutuhan bacaan siswa, akan memotivasi siswa untuk cinta kepada membaca, cinta terhadap bacaan, sebagai penghargaan/penghormatan terhadap sebuah karya, sekaligus mendorong mereka untuk menghasilkan karya yang bermutu dan prestasi.

Selain buku, minat membaca siswa perlu difasilitasi misalnya dengan membuat majalah dinding untuk science, atau pun karya sastra yang lainnya. Siswa bisa menggunting informasi yang bermanfaat dari koran/majalah di rumah, untuk dibawa ke perpustakaan sekolah. Kemudian untuk setiap hasil guntingan tersebut dikelompokkan menurut topiknya, untuk kemudian ditempel dan dipajang sebagai hasil karya dari siswa. Dalam kurun waktu tertentu, majalah dinding di perpustakaan sekolah ini harus terus di-update. Hal ini akan memotivasi siswa, selain untuk gemar membaca, juga gemar berkarya. Lewat karya di dinding ini pula, akan terjadi penyebaran informasi yang bermnfaat bagi siswa-siswa lain yang membaca. Sehingga makin banyak siswa yang pandai, cerdas dan semakin mudah pula mereka untuk berprestasi.

Agar tidak gaptek serta tidak ketinggalan informasi, koleksi perpustakaan juga perlu ditambah dengan akses internet, bisa berupa jurnal pendidikan atau pun informasi terkini lainnya. Pendidikan penelusuran informasi/browsing di internet harus diajarkan sejak pertama kali siswa masuk di sekolah, karena akan besar manfaatnya untuk membantu proses pendidikan yang berlangsung. Setelah itu perlu dilakukan pembinaan terprogram dan monitoring terhadap aktifitas siswa dalam ber-internet. Hanya informasi yang benar-benar bermanfaat saja yang bisa dijadikan sumber ilmu pengetahuan dan pelajaran siswa dalam kelas. Dengan internet, waktu pencarian terhadap sebuah informasi relatif lebih cepat. Dan informasi dari internet akan lebihuptodate. Apa pun masalah yang ditemui siswa, pasti ada solusinya di internet. Siswa juga dapat mengembangkan pelajarannya dengan dibantu sumber dari internet. Dengan internet siswa akan menjadi pelajar yang plus, prestasi pun sudah menanti di depan.

 

Perpustakaan sekolah merupakan pusat masyarakat sekolah dalam mencari sumber informasi dan ilmu pengetahuan. Selain kinerja pustakawan sekolah serta koleksi yang baik, aktifitas layanan perlu diberdayakan guna mendukung peran perpustakaan sekolah. Aktifitas layanan perpustakaan sekolah akan banyak dipengaruhi

oleh aktifitas siswa dalam memanfaatkannya. Sebagai mitra siswa dalam belajar, perpustakaan sekolah dapat merencanakanuser education agar siswa memahami maksud dan tujuan layanan yang diberikan.

Pustakawan sekolah harus kreatif dalam mengemas layanan panduan siswa ini. Jadual untuk user education ini perlu disusun sedemikian rupa agar berjalan secara efektif. Di sini siswa perlu dikenalkan bagian-bagian yang ada di perpustakaan sekolah. Seperti bagian peminjaman, penjajaran/shelving di rak koleksi, dsb. Di samping itu, perlu juga diajarkan fungsi dari masing-masing koleksi yang ada di perpustakaan. Dengan memahami maksud beberapa informasi yang ada di perpustakaan, siswa tidak akan salah jalan ketika akan mencari informasi dan ilmu pengetahuan sebagai pelengkap/tambahan dari mata pelajaran yang diterima di kelas.

Di kelas, pelajaran yang mereka terima tentu dapat dikembangkan dengan menggunakan acuan/sumber informasi di perpustakaan. Siswa bisa memperdalam ilmunya secara lebih detail. Proses penyerapan dan penalaran pelajaran merupakan awal dari proses yang harus dilalui siswa untuk menghasilkan karya yang bermutu. Siswa yang sering memanfaatkan perpustakaan sekolah, akan terbiasa dengan koleksi yang ada. Karena kelengkapan sumber informasi sangat menentukan dalam membuat karya yang bermutu, maka semakin banyak sumber informasi yang dipakai, makin baik pula suatu karya dapat dihasilkan.

Dengan rasio jumlah pustakawan sekolah dan siswa yang jauh dari ideal, maka seyogyanya sejak dini perpustakaan telah mengenalkan bagaimana tips-tips memanfaatkan layanan dan koleksi yang ada untuk membantu mencapai tujuan pendidikan siswa. Misalnya untuk sekolah dasar kelas 4 dan 5, sedangkan sekolah untuk sekolah menengah kelas 2. Selain mereka diberikan bimbingan cara memanfaatkan perpustakaan dengan benar, mereka juga dibebani kewajiban untuk mensosialisasikan kepada adik-adik kelasnya. Dengan pendidikan yang berantai, seluruh siswa akan mempunyai ilmu tentang bagaimana memanfaatkan perpustakaan sekolah dengan baik sehingga akan lebih termotivasi untuk belajar. Belajar akan menjadi aktifitas sehari-hari siswa. Siswa yang terbiasa dengan belajar, akan lebih mudah pula dalam berprestasi.

Siswa juga harus terus untuk dilatih berdiskusi. Misalnya saja berdiskusi tentang suatu cerpen atau mendiskusikan tentang terjadinya gelombang pasang air laut yang disebabkan oleh gerhana bulan. Bertempat di ruang diskusi perpustakaan sekolah, dipandu oleh guru dan pustakawan sekolah, siswa dilatih untuk mengungkapkan ide-ide ilmiahnya, mempertahankan pendapatnya, serta mencari solusi/kesimpulan dari suatu permasalahan yang terjadi. Untuk bisa mendapatkan ide ilmiah, siswa terlebih dahulu harus terbiasa dengan membaca maupun browsing di internet, sehingga wawasan keilmuan siswa akan lebih luas dan terfokus. Siswa yang kaya akan berbagai ide ilmiah, tidak akan kesulitan dalam berkarya dan berprestasi.

Menjajal penelitian terhadap masalah yang terjadi di sekitar, dihubungkan dengan dengan mata pelajarannya, sangat mungkin dikerjakan oleh siswa. Dengan dibantu guru pembimbing penelitan dan pustakawan sekolah, siswa akan lebih bersemangat dan termotivasi dalam penelitian. Perpustakaan sekolah harus menyediakan semua informasi yang dibutuhkan selama penelitian berlangsung, termasuk dalam pembuatan laporan penelitian.

Selain memberikan layanan terfokus pada siswa, perpustakaan sekolah dapat mengembangkan dan meningkatkan layanannya, bekerjasama dengan pihak-pihak terkait, antara lain orang tua siswa, sekolah sejenis yang lebih baik, serta dengan perpustakaan umum/daerah.

Orang tua siswa merupakan mitra belajar siswa di rumah. Dalam program membaca sebagai aktifitas siswa di rumah, perpustakaan sekolah dapat memotivasi orang tua agar menjadi teladan bagi putra-putrinya. Saat menunggu anaknya pulang sekolah, orang tua bisa meluangkan waktu untuk membaca di perpustakaan sekolah. Selain itu, peran oarang tua juga bisa menjadi penyedia anggaran untuk pembelian buku, memberi hadiah ulang tahun dengan buku cerita/science terbitan terbaru, membudayakan membaca surat kabar/majalah di rumah, serta mengajak anak-anak ke perpustakaan umum/daerah saat setiap libur akhir pekan. Budaya membaca dan belajar yang dikembangkan orang tua akan mendarah daging pada anak, sehingga secara otomatis, otak mereka selalu terasah dengan ilmu dan pengetahuan. Siswa tidak akan mengalami kesulitan lagi dalam penyerapan dan penalaran pelajaran jika otak mereka selalu terasah dan terbiasa dengan ilmu pengetahuan. Bukankah siswa berprestasi akan selalu mengasah pola fikirnya dengan ilmu pengetahuan ??

Untuk menjadi lebih baik, perpustakaan sekolah harus terus berbenah. Studi banding dengan sekolah yang sejenis, tetapi sudah terlebih dulu memiliki prestasi; harus terus dilakukan. Mereka bisa berbagi tentang cara belajar, cara menambah ilmu pengetahuan di luar kelas, cara memanfaatkan perpustakaan beserta koleksinya, dsb. Tujuannya agar rahasia sekolah unggulan dapat diterapkan, dan siswa yang belum berprestasi dapat berbagi pengalaman dengan siswa sekolah ungulan yang telah berprestasi.

Dengan perpustakaan umum/daerah, perpustakaan sekolah juga bisa bekerjasama dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan layanannya kepada siswa, khususnya bagi siswa kelompok usia anak dan remaja. Kerjasama dapat dilakukan misalnya dengan melakukan study visit ke perpustakaan umum/daerah untuk mengetahui koleksi apa saja yang sesuai untuk siswa pada usia anak-anak atau remaja, serta layanan apa saja yang telah dihadirkan di sana. Sehingga sepulang dari perpustakaan umum/daerah, siswa akan memiliki wawasan tentang semua hal yang berkait dengan perpustakaan dan jasa layanannya. Sedangkan bagi perpustakaan sekolah, bisa berbenah ke dalam. Siswa yang senang dan sering memanfaatkan perpustakaan sebagai penyedia jasa informasi dan ilmu pengetahuan, akan terbantu dalam mewujudkan prestasi dan cita-citanya.

Disalin dari sumber :http://perpumda-dki.pnri.go.id/?q=node/101

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

SUKSES UN SMKN 38

Latar Belakang.

Ujian Nasional biasa disingkat UN / UNAS adalah sistem evaluasi standar pendidikan dasar dan menengah secara nasional dan persamaan mutu tingkat pendidikan antar daerah yang dilakukan oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Depdikbud di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003.

Sumber gambar :https://www.reynaldifahlepi.yu.tl

Dalam UU tersebut menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Lebih lanjut dinyatakan bahwa evaluasi dilakukan oleh lembaga yang mandiri secara berkala, menyeluruh, transparan, dan sistematik untuk menilai pencapaian standar nasional pendidikan dan proses pemantauan evaluasi tersebut harus dilakukan secara berkesinambungan. Penentuan standar yang terus meningkat diharapkan akan mendorong peningkatan mutu pendidikan, yang dimaksud dengan penentuan standar pendidikan adalah penentuan nilai batas (cut off score).  Seseorang dikatakan sudah lulus/kompeten bila telah melewati nilai batas tersebut berupa nilai batas antara peserta didik yang sudah menguasai kompetensi tertentu dengan peserta didik yang belum menguasai kompetensi tertentu.  Bila itu terjadi pada ujian nasional atau sekolah maka nilai batas berfungsi untuk memisahkan antara peserta didik yang lulus dan tidak lulus disebut batas kelulusan, kegiatan penentuan batas kelulusan disebut standard. 

Permasalahan

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, permasalahan di sekolah, terutama SMK Negeri 38 Jakarta adalah,”Bagaimana strategi sukses Ujian Nasional tahun 2015 ?”

Konsep dan Strategi

Ujian Nasional (UN) adalah kegiatan penilaian hasil belajar peserta didik yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan pada jalur sekolah/madrasah yang diselenggarakan secara nasional. Ujian Nasional merupakan alat untuk menilai ketercapaian standar nasional pendidikan dalam rangka memberikan informasi dalam pengambilan keputusan bagi pemegang kebijakan pendidikan di Indonesia. Selanjutnya bertujuan akhir dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

Agar peserta didik kelas XII SMK Negeri 38 Jakarta tahun pelajaran 2014/2015 sukses Ujian Nasional (UN), maka perlu perencanaan konsep dan strategi dalam menghadapinya. Adapun konsep dan strategi yang dilakukan oleh SMKN 38 adalah sebagai berikut :

  1. Perencaan pelaksanaan UN.

Di akhir tahun pelajaran 2013/2014 SMKN 38 mulai membuat perencaan tentang kapan perkiraan UN. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh tim pengembang kurikulum sekolah. Salah satu hasilnya adalah kalender pendidikan sekolah. Dari kalender tersebut akan tergambar kegiatan yang akan dilakukan selama satu tahun ke depan, yakni di tahun pelajaran 2015/2016, mulai dari Ujian Akhir Semester, Ujian Keahlian Kompetensi (UKK), Ujian Praktik Sekolah, Ujian Sekolah, Ujian Nasional, dll.

  1. Pembuatan Program Khusus Menghadapi UN

Setelah kalender ada, maka kemudian tim pengembang kurikulum dibantu dengan manajemen mulai membuat program khusus menghadapi Ujian Nasional. Program ini tidak akan berjalan dengan sukses, jika tanpa bantuan dan dukungan dari semua pihak di sekolah, antara lain : para wali kelas XII, guru yang mengajar di kelas XII, ketua program keahlian dan terutama peserta didik dan orang tua/wali. Sebagus apapun program yang dibuat dan dijalankan tanpa dukungan dari orang tua/wali dan peserta didik tidak akan berjalan dengan sukses.

  1. Pelaksanaan Program

Sumber gambar :http//www.kumpulandpbbm.net

Setelah program tersusun, maka mulai untuk dijalankan. Program yang disusun oleh SMK Negeri 38 Jakarta, agar sukses Ujian Nasional (UN) 2015 adalah sebagai berikut :

  1. Analisis SK – KD dan Bedah SKL UN tahun sebelumnya.

Tujuan kegiatan ini adalah agar guru yang mengampu mata pelajaran yang di-UN-kan mulai memetakan kemungkinan materi dan soal – soal ada. Sehingga kemudian guru bisa membuat prediksi soal untuk tahun berikutnya, yakni tahun 2015

2. Membuat soal – soal latihan (prediksi).

Setelah selesai dengan kegiatan analisis SK – KD dan bedah SKL, maka kemudian guru mulai membuat prediksi soal. Tujuannya adalah mendapatkan gambaran kemampuan peserta didik dalam mengerjakan soal – soal UN, serta guru menganalisis butir soal yang dibuatnya

3. Pelaksanaan Uji Coba Soal (Try Out).

Uji coba soal Ujian Nasional selama ini dilakukan oleh :

  • Guru mata pelajaran UN
  • Dinas Pendidikan (Tes Kendali Mutu)
  • K3SK Wilayah
  • Perguruan Tinggi yang bertujuan juga untuk menjaring calon mahasiswanya, antara lain Universitas Gunadarma.
  • 4. Pendalaman Materi (PM)

Setelah kegiatan Ulangan Tengah Semester (UTS) sekitar pertengahan Oktober, maka mulai diadakan kegiatan pendalaman materi (PM). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan materi tambahan yang belum dikuasai siswa, serta mengkaji soal – soal Ujian Nasional tahun sebelumnya. Pendalaman Materi dilakukan setiap hari Sabtu, dan diisi oleh para guru yang mengajar mata uji UN.

Setelah Ujian Kompetensi Keahlian (UKK) praktik, kegiatan pendalaman materi dilakukan di dalam kegiatan belajar mengajar (KBM). Sebab jam pembelajaran produktif sudah dikurangi dan ditambahkan ke mata pelajaran yang di-UN-kan.

5. Pembentukan Tutor Sebaya

Di setiap kelas dibentuk tutor sebaya sesuai dengan mata pelajaran yang di-UN-kan. Misalkan di satu kelas berjumlah 30 siswa, lalu ada 4 siswa yang mampu/memiliki  kelebihan di mata pelajaran Matematika, maka 26 siswa yang lain akan dibagi merata pada ke-4 siswa tadi untuk menjadi bimbingannya. Begitu juga dengan mata pelajaran lain. Tidak tertutup kemungkinan siswa yang menjadi tutor Matematika, dia menjadi peserta di mata pelajaran lain.

Setelah terbentuk , kemudian wali kelas dibantu guru mata pelajaran memantau perkembangan hasil belajar kelompok (tutor sebaya) dari siswa kelas tersebut.

7. Pemberian Penghargaan (Reward).

Sekolah akan memberikan penghargaan (reward) bagi siswa yang bisa mendapatkan nilai sempurna pada mata pelajaran yang di-UN-kan. Begitu juga guru mata pelajaran bisa memberikan penghargaan tambahan bagi siswa yang memperoleh nilai sempurna di mata pelajaran yang diajarkannya. Penghargaan ini juga bisa diberikan pada kelompok tutor sebaya yang memperoleh nilai rata – rata UN tertinggi dan yang memperoleh nilai sempurna paling banyak.

Selain itu SMK Negeri 38 juga membuat program untuk memotivasi semangat dan daya juang para peserta didik kelas XII dalam menghadapi Ujian Nasional. Program tersebut antara lain :

  1. Pemaparan program kerja sekolah kepada orang tua/wali kelas XII di awal tahun pelajaran, termasuk program dan kalender Ujian Nasional. Begitu juga pemaparan Kriteria Kelulusan yang selama ini berlaku. Tujuannya agar orang tua/wali mengetahui dan mendorong putra/putrinya agar lulus sekolah/UN.
  2. Pemaparan Kriteria Kelulusan pada seluruh siswa kelas XII, serta ditempel pada majalah dinding yang ada di sekolah.
  3. Motivasi dan Muhasabah.Di awal semester genap sekolah melakukan kegiatan motivasi dan muhasabah (renungan) pada seluruh peserta didik kelas XII dan orang tua/wali. Kegiatan ini dilakukan sebanyak 2 kali, yakni  : a. Motivasi dan renungan pertama dilakukan dengan melibatkan orang tua/wali. Kegiatan ini juga diikuti oleh guru dan tata usaha yang ada di sekolah. Sekolah bekerja sama dengan motivator handar yang sudah biasa memberikan motivasi pada siswa kelas XII. Tujuannya adalah agar timbul semangat dan dorongan dari orang tua/wali untuk anaknya. Begitu juga sebaliknya agar siswa lebih bersemangat karena mendapatkan doa restu dan dukungan dari orang tua/wali masing – masing. Kegiatan ini juga bekerja sama dengan Masjid Baitul Ihsan Bank Indonesia (Masjid BI), terutama dalam penggunaan aula dan sound sistem yang ada. Kegiatan motivasi dan renungan pertama dilakukan sebelum pelaksanaan Ujian Kompetensi Keahlian (UKK). b. Motivasi dan renungan kedua. Kegiatan ini dilakukan di sekolah dengan menginap, serta diikuti hanya kelas XII. Tujuannya adalah agar timbul kebersamaan dan semangat yang lebih tinggi pada diri siswa. Bagi siswa yang muslim, maka mereka akan dibimbing dengan kegiatan 3T (Taubat, Tasbih, Tahajud) terlebih dahulu. Sedangkan bagi yang non muslim akan dibimbing oleh guru yang non muslim juga. Sebelum tidur, siswa muslim dan non muslim menjadi satu untuk mendapatkan renungan dan motivasi kedua dalam menghadapi Ujian Nasional. Pada sepertiga malam bagi siswa yang muslim akan dibangunkan untuk shalat tahajud dan berdo’a sampai dengan shalat subuh berjama’ah.

Penutup

Demikian konsep dan strategi sukses Ujian Nasional tahun 2015 SMK Negeri 38 Jakarta. Mudah – mudahan kami bisa menerapkan program yang sudah kami rencanakan dan siswa SMK Negeri 38 Jakarta tahun 2015 bisa lulus 100% dan memperoleh peringkat yang memuaskan sesuai dengan target yang direncakan.

Posted in Pendidikan, SMKN 38 JAKARTA | Tagged , | 1 Comment

TAHUN BARU dan AWAL MASEHI

Tulisan ini sebenarnya sudah lama saya posting, setahun lebih, yakni Januari 2013. Tulisan ini hanyalah mengingatkan pada saudaraku sesama muslim yang sudah terbawa dan terbiasa dengan perayaan pergantian tahun. Mudah-mudahan tulisan bermanfaat dan menyadarkan kembali pada semua saudaraku yang muslim…

Kalender Julian yang menskralkan Dewa Janus, dewa bermuka dua anak dari dewa Apolo dan cucu Mahadewa Jupiter/Zeus diadopsi dalam kalender Masehi pada abad ke-6 oleh seorang biarawan Dionysius Exignus. Istilah lain kalender Masehi adalah Anno Domini (AD) yang berarti tahun Tuhan kita, dan sebaliknya jaman prasejarah atau Sebelum Masehi disebut Before Christ (BC) yang berarti tahun sebelum Yesus lahir. Sistem ini dirancang mulai tahun 525.

Selain itu dalam bahasa Inggris juga dikenal sebutan Common Era (Era Umum) dan Before Common Era/BCE (Sebelum Era Umum) bagi orang yang tidak ingin menggunakan tahun Kristen.

Penguasa Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun baru semenjak abad ke-46 SM. Orang Romawi mempersembahkan hari ini ( 1 Januari) kepada Janus, dewa segala gerbang, pintu – pintu, dan permulaan (waktu). Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yang memiliki 2 wajah, sebuah wajah mengahadap ke (masa) depan dan sebuahnya lagi menghadap ke (masa) lalu. (“the word book encyclopedia, 1984, volume 4 hlm.237”).

Dalam mitologi Romawi, Dewa Janus adalah sesembahan kaum Pagan Romawi. Bulan Januari (bulannya dewa Janus) ditetapkan setelah Desember karena Desember adalah pusat Winter Soltice, yaitu hari-hari saat kaum Pagam penyembah matahari merayakan ritual mereka saat musim dingin. Tradisi kaum Pagam merayakan tahun baru mereka (atau Hari Janus) dengan mengitari api unggun, menyalakan kembang api, bernyanyi bersama, memukul lonceng, dan meniup terompet.

Di Persia yang beragama Majusi (penyembah api), tanggal 1 Januari juga  dirayakan dengan menyalakan api dan mengagungkannya, kemudian orang-orang berkumpul di jalan-jalan, halaman, dan pantai, bercampur baur antara pria dan wanita, saling mengguyur sesama mereka dengan air dan minuman keras (khamr). Mereka berteriak-teriak dan menari-nari sepanjang malam.

Disalin dan diolah dari Tabloid Suara Islam Edisi 149 tanggal 15 – 29 Safar 1434 H / 28 Des 2012 – 11 Januari 2013, halaman 19.

http://www.suara-islam.com

Posted in Agama, Sejarah | Tagged , , , , | Leave a comment

Kurtilas dan Buku

Kurikulum 2013 resmi diberlakukan mulai tahun pelajaran 2014/2015. Pemerintah (Kemendikbud) setahun sebelumnya mengatakan bahwa sudah siap, termasuk untuk pengadaan buku pegangan siswa dan guru. Namun kenyataan yang ada selama setahun ke belakang (2013/2014) dan beberapa bulan ini (Juli – September 2014), kurtilas (kurikulum tiga belas) mengalami beberapa perubahan, baik dari struktur maupun berbagai peraturan yang diterbitkan oleh Mendikbud.

Contoh paling sederhana adalah pengadaan buku pegangan siswa dan guru yang sampai hari ini belum selesai juga. Kami bahkan harus jemput bola ke gudang penyimpanan buku dari penerbit yang memenangkan lelang pengadaan buku. Ternyata cerita dari mereka (percetakan), bahwa lelang buku baru diadakan pad bulan Mei 2014, sementara Juli – Agustus mereka harus segera mendistribusikan ke beberapa provinsi yang ada di Indonesia. Sementara bahan baku untuk mencetak buku (kertas, tinta) belum tersedia. Belum ditambah dengan software buku yang akan dicetak, ternyata banyak yang belum selesai.

Contoh kedua adalah untuk buku-buku kejuruan, yang sudah diupload di google drive. Jumlahnya ratusan judul (600 lebih), tapi di upload secara bertahap dan belum semuanya ada. Bahkan sekarang sudah tidak ada lagi. Sementara kegiatan belajar mengajar harus tetap berjalan….Akhirnya banyak guru berimprovisasi dengan mencari dan membeli buku-buku yang relevan, sementara siswa terus mencari.

Posted in Pendidikan | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

UN dan Prakerin di Kurtilas

Kurikulum 2013 saat ini sudah diberlakukan di beberapa sekolah yang ditunjuk sebagai sekolah sasaran dan sekolah yang melaksanakan secara mandiri. Di Jakarta semua SMA-SMK Negeri melaksanakan secara mandiri, diluar yang ditunjuk menjadi sekolah sasaran. Artinya pada tahun pelajaran 2014/2015 semua sudah memiliki kelas X dan XI. Khusus untuk SMK di Kurikulum 2013 menegaskan bahwa UN di kelas XI, lalu Prakerin di kls XII smtr 5. Saat ini pasti di semua SMK Negeri sudah banyak DU/DI yang menanyakan (meminta) peserta didik untuk Prakerin/PKL/PSG. Sesuai dengan Kur.2013, maka DU/DI akan diberikan jawaban, maaf tahun ini kami tidak mengirimkan siswa kami untuk prakerin terlebih dahulu, karena mereka akan menghadapi Ujian Nasional. Yang menjadi permasalahan adalah :

* Apakah pemerintah (Kemendikbud) sudah mempersiapkan dengan matang untuk pelaksaan UN pada tahun 2015 yang akan datang dengan 2 (dua) Ujian Nasional ? Yaitu kelas XII  yang masih menerapkan kurikulum 2006 dan kelas XI (kur.13). Persiapan yang pasti adalah :

1. Anggaran pelaksanaan yang pasti 2 kali lipat

2. Materi yang akan di UN-kan , karena kedalaman materi antara kelas XI dan XII jelas berbeda

3. Waktu pelaksanaan UN, apakah akan serempak/berbarengan ataukah tersendiri, alias dua kali mengadakan UN

4. Jika serempak, maka sekolah harus menyiapkan Ruang Ujian, dan Pengawas dua kali lipat (ini tentu tidak mudah)

5. Bentuk soal, lalu penyusun soal

6. POS untuk kedua UN tersebut

7. DLL (politik anggaran di DPR, dll)

Karena pertanyaan2 tersebut, maka kemudian muncul wacana lisan (karena hitam atas putih belum ada) khusus untuk SMK, UN tetap di kelas XII (tidak tahun 2015). Prakerin tetap di kelas XI, begitu wacana yang muncul. Namun wacana ini juga tidak mudah pelaksanaannya. Kenapa, alasannya adalah sbb :

1. Di beberapa kompetensi kejuruan, materi yang diterima kelas X  saat ini belum menunjang mereka untuk Prakerin di kelas XI nanti. Artinya kalau tetap dipaksakan maka dikhawatirkan justru malah hasilnya tidak maksimal, karena mereka secara materi teori dan praktek belum matang.

2. Kalau mereka UN tidak tahun 2015, tapi pada saat kelas XII, yaitu pada tahun 2016, itu artinya pada tahun 2016 juga akan ada 2 (dua) UN, yakni kelas XII dan kelas XI, yang sama-sama menerapkan Kur.13. Akibatnya pertanyaan2 seperti  di atas akan timbul kembali.

3. Apakah yang akan menjadi dasar hukum untuk penundaan pelaksanaan UN dan memajukan Prakerin untuk tahun pelajaran 2014/2015. Permendikbud ?Revisi Permendikbud ?Keputusan Direktur SMK ? Atau yang lain..Lalu apakah nanti tidak akan menabrak Permen-permen yang lain ?

4. Apakah semua guru, siswa, dan masyarakat sudah mengetahui tentang ini semua ? Sehingga nanti tidak muncul gugatan kembali ke Mahkamah Konstitusi (terutama tentang UN).

Tahun 2014/2015 semua Sekolah (termasuk SMK) wajib menerapkan Kurikulum 2013 baik itu kelas X ataupun XI. Bagaimana dengan mereka yang tahun ini (2013/2014) kelas X-nya masih menerapkan Kur.2006, lalu saat naik ke kelas XI harus menerapakn Kur.2013. Pertanyaan yang ada adalah :

1. Bagaimana dengan raport/LHBS mereka, serta sistem penilaian yang berbeda ?

2. Bagaimana dengan materi pelajaran yang tidak mereka dapatkan di kelas X, sementara itu hanya ada di tahun lalu (kelas X)

3. Bagaimana dengan UN/Prakerin mereka ?

4. Dll

Kepada Bapak/Ibu sesama guru atau pun pejabat yang berwenang dengan Kurikulum 2013, terutama untuk SMK, mohon kiranya berkenan untuk memberikan pencerahan terhadap saya agar semua pertanyaan – pertanyaan tadi bisa terjawab dengan gamblang dan jelas…

Posted in Pendidikan | Tagged , , , , | Leave a comment

Membangun Karakter Kebangsaan (di kelas)

Berikut ini adalah slide power point yg berisi tentang apa yang saya lakukan selama ini di kelas, terutama pada mata pelajaran PKn. bagi pembaca yang berminat bisa membuka atau mengikutinya, atau jika ada yang kurang berkenan/saran/kritik terhadap apa yang saya kerjakan, dengan senang hati saya bersedia untuk mengoreksi diri….Salam kebangsaaan !…..Maaf slidenya belum bisa di upload

 

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Kumpulan Permendikbud

Berikut disajikan kumpulan Permendikbud berkaitan dengan pemberlakuan Kurikulum 2013, terutama untuk SMK. Yang berminat silahkan unduh saja di bawah ini :

pp-nomor-32-tahun-2013

01. A. Salinan Permendikbud No. 54 tahun 2013 ttg SKL 01. B. Salinan Lampiran Permendikbud No. 54 tahun 2013 ttg SKL

03. A. Salinan Permendikbud No. 65 th 2013 ttg Standar Proses 03. B. Salinan Lampiran Permendikbud No. 65 th 2013 ttg Standar Proses

04. A. Salinan Permendikbud No. 66 th 2013 ttg Standar Penilaian 04. B. Salinan Lampiran Permendikbud No. 66 th 2013 tentang Standar Penilaian

06. A. Salinan Permendikbud No. 68 th 2013 ttg ttg KD dan Struktur Kurikulum SMP-MTs 06. B. Salinan Lampiran Permendikbud No. 68 th 2013 ttg Kurikulum SMP-MTs

 

07. A. Salinan Permendikbud No. 69 th 2013 ttg ttg KD dan Struktur Kurikulum SMA-MA

08. Permendikbud Nomor 70 ttg Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum SMK-MAK

permendikbud-nomor-81a-tahun-2013-tentang-implementasi-kurikulum

Salinan permendikbud No.64 th 2013 ttg SI

81a. lampiran-iv-pedoman-umum-pembelajaran

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pembelajaran dan Pemelajaran

Anton M. Moeliono – Kompas, 26 Juli 2003

Dewasa ini orang banyak memakai kata pembelajaran sebagai padanan istilah bahasa Inggris learning. Apakah pembelajaran itu memang mengacu ke perbuatan atau proses belajar? Sebagai bandingan, marilah kita perhatikan beberapa bentuk yang sejajar. Akan jelas nanti apakah kita taat asas dalam penerapan kaidah bahasa, atau justru menyimpang.

antonTugas menteri pemberdayaan perempuan ialah memberdayakan kaum wanita. Pemberangkatan calon haji mengacu ke usaha memberangkatkan jemaah itu. Pemberhentian karyawan yang mbalelo bermaksud tindakan memberhentikan pegawai yang membangkang itu. Ada pertalian makna antar nomina dan verba yang berimbuhan itu. Nomina berimbuhan yang berbentuk pember-an menyebabkan atau menjadikan sesuatu yang dinyatakan oleh verba yang berimbuhan member-kan. Pemberdayaan berarti menyebabkan atau menjadikan berdaya. Pemberangkatan berarti menyebabkan atau menjadikan berangkat. Pemberhentian menyebabkan atau menjadikan berhenti.

Menurut pola tadi, pembelajaran harus ditafsirkan ‘menjadikan atau menyebabkan belajar’. Tentu saja yang belajar itu orang, bukan maujud (entity). Yang tidak bernyawa. Menurut sejarah pembentukannya memang itu yang dimaksudkan.

Istilah pembelajaran mula-mula muncul di kalangan ahli pendidikan IKIP Jakarta yang ingin membedakan teaching dari instruction. Karena teaching dianggap berorientasi kepada guru, sedangkan instruction berorientasi kepada pelajar, timbullah gagasan untuk memakai pasangan pengajaran dan pembelajaran. Yang pertama mengacu ke perbuatan mengajar, dan yang kedua mengacu ke tindakan membelajarkan, atau menyebabkan orang belajar.

Jika orang yang mengajar disebut pengajar, maka orang yang membelajarkan akan disebut pembelajar. Dialah yang di dalam bahasa Inggris disebut instructor. Lalu bagaimana kita menyebut orang yang belajar? Tentu saja pelajar. Apakah pelajar sama dengan learner? Rupanya di Indonesia tidak selalu demikian. Ternyata ada kepekaan sosial terhadap hierarki golongan pelajar di antara kita. Ada istilah murid yang mengacu ke pelajar TK dan SD. Ada pelajar yang biasanya merupakan sebutan untuk mereka yang duduk di SLTP, sedangkan siswa dipakai untuk remaja yang belajar di peringkat SMU. Kata mahasiswa menunjuk ke pelajar yang satu tingkat di atas golongan siswa dan mula-mula hanya dipakai untuk orang yang belajar di perguruan tinggi program pendidikan sarjana. Ketika program pascasarjana diresmikan ada peserta yang berkeberatan disebut mahasiswa karena merasa dirinya sudah menjadi sarjana dan bukan mahasiswa lagi. Mungkin kenyataan itu menjadi sebab mengapa diciptakan istilah peserta didik untuk memayungi semua golongan pelajar.

Dengan latar belakang itu juga dapat dipahami mengapa istilah learner dahulu tidak dipadankan dengan istilah pelajar karena medan pengacuannya berbeda. Sebenarnya frasa Inggris teaching-learning process pernah dipadankan dengan proses mengajar-belajar atau proses belajar-mengajar yang tidak menimbulkan salah paham atau protes. Kita juga sudah memadankan distant learning dengan belajar jarak jauh.

Bentuk belajar sebagai salah satu padanan learning rasanya wajar sebagaimana kita juga menyebut mata pelajaran lain dengan bentuk verba, seperti Berhitung, Menulis, Membaca, dan bukan Penghitungan, Penulisan, Pembacaan. Bentuk verba itu rupanya merupakan terjemahan dari bahasa Belanda – rekenen, schrijven, dan lezen – dan bukan bahasa Inggris. Sekarang masa jayanya untuk bentuk dengan akhiran –ing seperti reading dan writing.

Di samping membelajarkan yang berobyek orang, ada mempelajari yang berobyek barang, bahasa, sifat, dan hal. Jika kita mengikuti paradigma bentuk turunan kata Indonesia, maka pelaku mempelajari ialah pemelajar dan perbuatan atau prosesnya: pemelajaran. Pemelajar dan pemelajaran merupakan padanan alternatif untuk learner dan learning. Sebelumnya kita sudah memakai pemeroleh dan pemerolehan (bahasa) untuk acquisition serta pemercepat dan pemercepatan untuk acceleration.

Selain rangkaian belajar, pelajar, dan pelajaran, perkembangan zaman dan pengalaman menciptakan keperluan untuk paradigma baru. Yang pertama pembelajaran ‘instruction’, dan pembelajar ‘instructor’, dan kedua, pemelajaran ‘learning’ dan pemelajar ‘learner’.

Kita harus berani merevisi salah kaprah.

Posted in Pendidikan | Tagged , , , | Leave a comment