Sertifikasi Guru dan Kecemburuan

MAKALAH E-LEARNING SERTIFIKASI PROFESI GURU DAN KECEMBURUAN

Oleh : Kusdiyono (Guru SMKN 38 Jakarta)            

Pemerintah dan DPR telah mengesahkan  dan memberlakukan UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Empat tahun sudah UU tersebut berlaku. Tidak lama kemudian pemerintah dan DPR kembali mengesahkan dan  memberlakukan UU tentang Guru dan Dosen, termasuk di dalamnya tentang sertifikasi

            Dengan lahirnya UU yang kedua, maka pemerintah dalam hal ini Depdiknas mulai menyusun strategi untuk melakukan sertifikasi profesi bagi para guru di seluruh Indonesia. Tidak lupa juga lembaga-lembaga pendidikan yang berhak melakukan uji sertifikasi bagi para guru tersebut. Tujuan dan latar belakang dari sertifikasi bagi guru ini sangat mulia, yaitu untuk meningkatkan profesionalitas para guru, yang pada akhirnya nanti meningkatkan pula kualitas pendidikan (lulusan) di Indonesia. Sekolah tidak hanya meluluskan anak didiknya yang kemudian menjadi beban masyarakat, karena masih belum bekerja. Tetapi para lulusan yang mampu mandiri, mampu menciptakan lapangan kerja dan mampu pula untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang tinggi, serta mampu bersaing di era globalisasi.

            Untuk tahap awal sertifikasi para guru dilakukan dengan “portofolio”, yaitu para guru harus melengkapi semua dokumen yang dimiliki mulai dari pertama (SK pertama) sampai dengan saat dilakukan uji sertifikasi. Bagi yang lolos dan lulus tahap pemberkasan, maka berhak untuk mengikuti tahap selanjutnya.            Sebagai pendorong ataupun motivator bagi para guru yang mengikuti uji sertifikasi maka pemerintah memberikan “janji” akan memberikan gaji/uang sertifikasi sebesar satu bulan gaji bagi para guru yang lolos dan lulus sampai tahap akhir. Namun pertanyaan yang muncul, jika insentif sertifikasi diterima maka akan muncul “kecemburuan” di lingkungan sekolah yang bersangkutan. Para guru yang belum mengikuti sertifikasi, langsung maupun tidak pasti akan memiliki anggapan, “yang mengajar yang sudah sertifikasi saja, sebab sudah lulus, sudah profesional”. Ditambah dengan kesenjangan yang muncul dari adanya pemberian uang sertifikasi. Apalagi bagi para guru yang masih berstatus “honorer”. Di lapangan akan muncul anggapan kerjaan sama tapi gaji berbeda.            Kondisi di atas dapat terjadi di semua jenjang pendidikan, baik negeri maupun swasta. Pertanyaa selanjutnya adalah, apakah pemerintah sudah mengantisipasi hal yang demikian. Sebab jika pemerintah harus memberikan insentif sertifikasi bagi para guru yang lolos dan lulus sertifikasi, berapa triliun dana yang diperlukan ? Apakah di APBN/APBD sudah dianggarkan ( dan sesuai konstitusi) ? Jika tidak ataupun belum, maka sertifikasi guru akan menjadi bom waktu di sekolah. Para guru yang belum sertifikasi ataupun yang tidak lulus “semangat” mengajarnya akan berbeda dengan yang sudah lulus.            Kenyataan di lapangan program sertifikasi diberikan kepada para guru yang sudah senior. Ini menambah dampak “kecemburuan” di sekolah. Seharusnya pemerintah, dinas, suku dinas ataupun kepala sekolah memberikan hak yang sama kepada semua guru yang sudah pegawai negeri untuk mengikuti sertifikasi, tanpa melihat masa kerja. Bagi yang lolos dan lulus, berarti memang sudah haknya, bagi yang belum akan menerima dengan lapang dada dan tetap bekerja dengan “istiqomah” dan selalu berusaha meningkatkan kemampuan diri.            Tulisan ini bukan bermaksud menggurui ataupun mengadakan pembelaan, tapi sekedar “sharing” dan mengungkapkan apa yang ada pikiran penulis. Apalagi penulis sendiri statusnya belum PNS, masih PTT di DKI Jakarta.                                                                                                Jakarta, 23 Nopember 2007        

About Kusdiyono

Guru yang mengajar di SMKN 38 Jakarta mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) dan KKPI (dulu). Tugas tambahan sebagai Wakabid Kesiswaan. Alamat Jl.Kebon Sirih No.98 Jakarta Pusat, telp/fax (021) 3441788/3506191. E-mail : kus_d@yahoo.com , kusdiyono@gmail.com
This entry was posted in Tendik. Bookmark the permalink.

12 Responses to Sertifikasi Guru dan Kecemburuan

  1. cemburu? … ah masa😀

  2. abi maira says:

    Semua ada masanya. Para senior berhak mendapatkan renumerasi lebih karena pada saat mereka memutuskan menjadi pegawai negeri (guru) mereka hanya berfikir untuk bisa makan (gaji cukup untuk dapur). Tapi kalo sekarang gaji bisa untuk beli kendaraan baru.
    Semua ada masanya.

  3. c1p says:

    hanya guru yg kritis yang memiliki pemikiran ini…dan saya memiliki persepsi yang serupa…, saya senang ada sertifikasi walau saya GTT yang masih jauh memperolehnya karena, kurang lebih sama yang ada ditulisan ini: “senioritas”..namun saya berpendapat, kalau serifikasi dan juga TPP (Tunjangan Planga-Plongo”) HARUS TEPAT SASARAN. Saya kira bukan rahasia lagi kalau “ada guru PNS yang bergaji diatas 3 juta tapi seringkali pulang mulu, ngak bisa IT, suka marah, dan tidak ingin berubah (ini harus tidak mendapatkan Ser+TPP), tapi, saya berpendapat semua pihak harus jelih melihat realitas di sekolah2 sambil menentukan peraturan yang cerdas dan mencerdaskan bangsa. Viva magistra!!!

  4. komang says:

    Betul tu mas…………………………..!!

  5. ahmad says:

    memang betul sertifikasi ‘senioritas’ membuat para guru honorer merasa cemburu karna pada prakteknya guru honorer lebih kreatif dalam bekerja walau honor cuma cukup buat makan siang sendiri.Mohon semua pihak untuk memikirkan dulu agar supaya ada pemerataan selama guru mau mencerdaskan bangsa

  6. Willy Ediyanto says:

    Buat Abi Maira, c1p, Komang, dan Ahmad. Saya sependapat dengan Anda semua. Walaupun pada kenyataannya, saya sudah terhitung senior, namun Depag, saya guru madrasah, tidak mempertimbangkan senioritas. Saya guru yag penuh kesibukan mengembangkan diri dengan masa kerja 12 tahun toh belum ikut sertifikasi karena terganjal daftar urut prioritas yang dikeluarkan departemen agama. Padahal yang junior bahkan ada yang baru 3 tahun sudah sertifikasi dan lulus diklat., Untungya mereka pun belum dibayarkan tunjangannya. Kalau sudah dibayarkan kan saya makin kecewa.

    buat semua yang telah komen, kita tunggu kebijakan pemerintahan yg baru nanti apakah akan berpihak/adil atau malah sebaliknya. Yang pasti guru sekarang adalah pahlawan dengan jasa, bukan tanpa tanda jasa lagi…

    • Tresna W says:

      Memang itulah kenyataan yang ada, setiap kebijakan selalu saja ada dampak pengringnya, ya…..pasrah saja. Ikuti arus yang mengalir.

  7. elha says:

    cemburu krn apa,,mungkin yg cemburu jg mau???????????????????????//

  8. ADRIN FEBRIAN says:

    Saya sependapat dengan anda, sertifikasi hanya menambah suasana tidak kondusif ditempat kerja.Secara pribadi saya merasa malu sebagai lulusan universitas negeri ( UNIMED ).Mengapa saya dan teman-teman diluluskan kalau toh kami belum dapat diakui menjadi guru yang profesional dan siap pakai, yang lebih lucunya UNIMED gencar menjadi penyelenggara program sertifikasi guru. Apa itu tidak mempermalukan UNIMED sendiri sebagai produsen guru! itu berarti kualitas Universitasnya………….., maka menghasilkan alumni yang……………………………….?

  9. simare says:

    Para guru yang belum mengikuti sertifikasi, langsung maupun tidak pasti akan memiliki anggapan, “yang mengajar yang sudah sertifikasi saja, sebab sudah lulus, sudah profesional”. Ditambah dengan kesenjangan yang muncul dari adanya pemberian uang sertifikasi. Apalagi bagi para guru yang masih berstatus “honorer”. Di lapangan akan muncul anggapan “kerjaan sama tapi gaji berbeda”.
    Pemerintah, para ahli, stake holder atau apapun namanya. Dimana otaknya sehingga memunculkan ide kecemburuan sosial yang sangat signifikan seperti ini. Dan di lapangan terakhir terlihat, belum tentu oknum guru yang mendapat sertifikasi yang katanya profesional. Dari pada guru yang tidak/belum mendapat sertifikasi. Malah sekarang ada dugaan suap agar mendapat sertifikasi. Bahaya bagi generasi bangsa.

  10. creestiivo says:

    hello

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s