LASKAR AL WATHANIYAH & NASIONALISME

laskar.jpgSungguh kaget saya melihat berita di televisi  bahwa banyak warga Negara Indonesia yang direkrut oleh kerajaan Malaysia sebagai laskar Al Wathaniyah. Sebuah tentara sipil (para milisi) yang dilatih bahkan ada yang dipersenjatai sama dengan tentara. Dalam struktur tentara Malaysia bahkan termasuk personil inti tentara.  Keadaan ini sudah berlangsung selama 2 tahun lebih. Pertanyaan besarnya adalah betul tidak ya, berita di televisi tersebut. Seandainya betul, maka saya yang notabene guru PKn berpikir apa yang saya ajarkan selama ini di kelas pada anak didik   tentang nasionalisme seolah-olah menjadi sia-sia. Saya seperti berteriak tentang idealisme di tengah gurun (panas, gersang, haus, teriak sendiri….capek deh).  Begitu mereka lulus kembali ke masyarakat, lalu masuk ke dunia kerja, mereka menghadapi bahwa lapangan kerja sangat sedikit, persaingan sangat ketat. Lalu akhirnya mereka memilih jalan pragmatis, yaitu menikah dengan pria yang sudah mapan (itupun kalau memiliki modal wajah yang cantik, body yang bagus, dsb). Bagi yang menikah dengan dasar cinta dan idealisme, begitu sudah dikarunia anak, himpitan ekonomi yang mendesak, akhirnya tidak sedikit yang berangkat menjadi tenaga kerja di luar negeri.

Kita sudah sering mendengar para TKI/TKW adalah pahlawan devisa, tapi bagaimana dengan para TKW yang menjadi tentara bayaran di negeri Jiran ? Kalau kita tanya apakah mereka cinta dengan Indonesia ? Mereka pasti akan jawab cinta dengan tanah air dan Negara Indonesia, tapi Indonesia tidak bisa memberikan mereka pekerjaan, penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Terpaksa mereka mengabdi pada Negara tetangga.

Saya jadi ingat  plesetan jargon kampanya pemilu dari salah satu parpol yang lalu,yaitu “maju tak gentar membela yang bayar”. Para laskar tersebut di beritakan pernah latihan perang bersama dengan tentara Indonesia. Mereka berpikir tidak ya…..seandainya itu perang beneran, apakah kita tidak saling bunuh dengan sesama  anak bangsa sendiri ( sungguh mengerikan….!).

Kita tentu tidak bisa menyalahkan mereka yang menjadi laskar. Karena nasionalisme mereka sudah dikalahkan oleh urusan ekonomi, urusan perut lapar, …semua idealism bisa ditinggalkan (bahkan aqidah juga kadang ditinggalkan). Pemerintah harus bertanggung jawab agar hal tersebut tidak terulang lagi dimasa mendatang.

Sia-sia saya rasanya kalau mengajarkan nasionalisme, sementara realita yang ada seperti itu. Pemerintah lebih sibuk dengan urusan politik dan stabilitas. Sementara rakyat banyak yang semakin sulit dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

sapi.jpgSaya ada sedikit cerita…tentang program konversi kompor gas. Ada tetangga dekat rumah yang termasuk kategori miskin. Untuk makan saja sulit, masak dengan kayu bakar, kadang minyak tanah kalo pas ada duit buat beli. Pak RT memberikan bantuan kompor gas dan tabungnya.., Pelatihan pemakaian dan perawatan kompor dan tabung tidak ada, baik dari penyalur, RT maupun RW. Ngeri saya membayang seandainya tabung mereka meledak, maka akan habis rumah dia atau beberapa rumah tetangga (seandainya terjadi kebakaran). Akhirnya sekarang kompor tersebut tidak dipakai lagi, karena mereka tidak sanggup untuk membeli tabung isi ulang seharga 13 sampai 15 ribu rupiah. Mereka kembali ke kayu bakar, dengan mencari sisa-sisa kayu dari tetangga. Minyak tanah susah dicari, kalau ada harganya tidak terjangkau oleh mereka.

Seandainya program kompor gas sukses (menurut pemerintah), bagaimana nasib orang seperti tetangga saya tadi, nasib tukang nasi goreng, batagor, siomay ataupun skuteng yang keliling setiap malam dari satu gang ke gang yang lain…mereka mengandalkan minyak tanah….

About Kusdiyono

Guru yang mengajar di SMKN 38 Jakarta mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) dan KKPI (dulu). Tugas tambahan sebagai Wakabid Kesiswaan. Alamat Jl.Kebon Sirih No.98 Jakarta Pusat, telp/fax (021) 3441788/3506191. E-mail : kus_d@yahoo.com , kusdiyono@gmail.com
This entry was posted in Politik. Bookmark the permalink.

2 Responses to LASKAR AL WATHANIYAH & NASIONALISME

  1. mintri says:

    pak guru yang terhormat…..
    mungkin nasionalisme jaman sekarang sudah menjadi makanan berbau basi dan klise… bukan hanya ditengah2 perut lapar, bahkan dikalangan berlebih nasionalisme hanya sebatas pemanis bibir dan topeng.
    sedih ketika nama bangsa tidak lagi pernah terdengar di dunia internasional (ternyata rencana AS untuk menghilangkan Indonesia dari peta dunia mulai terealisasi).
    bahkan sekarang masyarakat memilih pemimpin tidak berdasarkan kelayakan figur tapi kadang cuma karena hal sepele (kumis.red). mungkin pelajaran politik harus dimasukkan kurikulum SLTA pak, karena nasib bangsa ditangan pemimpin sementara yang memilih pemimpin mayoritas generasi muda.
    soal konversi minyak tanah bahkan pengalihan premium menjadi petramax sepertinya itu satu satu jalan terburuk yang memang harus ditempuh pemerintah pak, harga minyak nasional memang sangat2 terlalu rendah dr negara lain, jika tidak APBN akan terus memukul masyarakat lewat mahalnya pajak dan bea pelayanan umum.
    tetap maju pak…. mari kita bangun semangat nasionalisme bangsa…

  2. Kusdiyono says:

    Ternyata masih bisa diskusi serius…Bravo idealisme

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s