SEKOLAH YANG MENGANCAM…

Berikut sebuah tulisan yang menarik dari blog tetangga, mudah-mudahan bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya…

Sumber tulisan :http://nengirma. multiply. com/journal/ item/246/ SEKOLAH_YANG_ MENGANCAM

“Lari lima putaran! Jemur satu jam! Jalan jongkok sampai pagar!
Pernah menerima perintah-perintah seperti di atas ketika sekolah dulu? Apa sekarang anak-anak anda masih menerima hukuman yang sama di sekolahnya? Di sekolah tempat saya mengajar, ya, masih.
Primitif memang, mengganjar kesalahan seperti terlambat, tidak memakai atribut lengkap, absen, atau kabur melompati pagar sekolah dengan hukuman fisik. Jaman berlalu, dan sistem yang sama masih berlaku. Pertanyaannya: apakah ini penerapan disiplin, atau kekerasan dalam pendidikan?
Jangan kira kami tak melakukan usaha perbaikan. Sudah beberapa tahun belakangan, sistem poin diterapkan. Surat-surat peringatan dikeluarkan pada batas jumlah poin tertentu, dan ada batas maksimal poin pelanggaran bagi setiap siswa. Inginnya adalah sebuah sistem yang lebih beradab, yang bisa mendorong siswa untuk berprilaku baik tanpa mengandalkan kekerasan. Bagaimana hasilnya?
Kami mengevaluasi tingkat pelanggaran. Ternyata, anak-anak ini merasa tidak ‘terhukum’ oleh catatan poin, dan jumlah kasus semakin banyak terjadi. Baru semua ribut-ribut pada saat dapat surat peringatan dan pemanggilan orang tua. Tiap semester, wali kelas vs bagian kedisiplinan bersitegang membahas apakah siswa A atau siswi B dipertahankan atau tidak. Semakin banyak jumlah siswa yang masuk dalam daftar pembahasan, ketegangannya semakin bertambah.
Mungkin kami tak cukup sabar menunggu, karena di mana pun sistem baru memang perlu waktu. Sayangnya kami tak punya yang namanya waktu. Daripada kedisiplinan berjalan amburadul dan mempengaruhi iklim belajar, sistem hukuman primitif pun kembali dilakukan: kami mengancam dengan hukuman fisik.
Beberapa guru mencoba mencari jalan lain untuk mengganti ancaman hukuman fisik. Ada guru yang mewajibkan anaknya melafalkan wirid tiga kali balik. Ada guru yang mewajibkan menulis istighfar 300 kali. Ada guru yang mewajibkan menulis tiga lembar rumus matematika sebelum anak masuk kelas.
Lalu pertanyaan berikutnya: apakah nantinya hukuman identik dengan zikir, istighfar dan rumus pelajaran? Kalau iya, bagaimana bila anak trauma pada hal-hal baik tersebut nantinya, hingga sampai seterusnya akan menghindari zikir, istighfar dan rumus?
Tapi ancaman di sekolah memang bukan cuma fisik saja. Sering kita temui ancaman verbal, juga mental yang dilakukan atas nama ‘menjaga kedisiplinan dan efektifitas belajar’. Satu lagi, nilai. Kerjakan ini, kamu dapat nilai. Jangan coba-coba mangkir, merah nilaimu, tak naik kelas kamu.
Suami saya adalah termasuk orang-orang pertama yang ditugasi pihak fakultas untuk menerapkan SCL pada mata kuliah yang diampunya. SCL, atau student centered learning, menghendaki dosen berlaku sebagai fasilitator. Dia harus berupaya membangkitkan motivasi terhadap mata kuliah tersebut, sehingga tak perlu ada ancaman untuk membuat anak-anak ini belajar.
Berhasilkah? Tidak selalu. Berkali-kali suami saya mengaku hampir putus asa. Merasa sudah berusaha semampunya berimprovisasi seraya menjauhi negative encouragement, tapi ternyata anak-anak yang kuliah di perguruan tinggi negeri favorit ini tak merasa harus bergerak bila tak diancam akan gagal bila tugas tak diserahkan, atau absen kosong melompong.
Manusia, katanya, adalah pembelajar alami. Semua yang diketahui anak hingga usia 4 tahun adalah hasil belajarnya yang alami, penuh semangat dan antusiasme. Di sekolah, ke mana antusiasme itu? Kenapa kita harus mengancam agar anak mau belajar?
Mungkin memang baiknya hukuman dikaitkan dengan hilangnya kesenangan. Bila anda melanggar, kesenangan yang anda dapat di sekolah akan hilang. Kelihatannya cukup adil, bukan? Sayangnya saya belum menemukan, kesenangan apa kira-kira yang masih ada di sekolah sekarang ini.
———————————————————————————————————
SANKSI DENDA…..
Sanksi ini sebenarnya cukup efektif juga. Banyak siswa lebih memilih dihukum fisik daripada kehilangan uang seribu atau dua ribu perak. Namun ada yang berpendapat…JANGAN ADA DENDA UANG utk sanksi keterlambatan/kediplinan yang lain. Ntar keenakan yang anak orang kaya. Nggak apa telat, toh BABE BISA BAYAR, repot kan?
Jangan juga ada sanksi fisik kayak bersihin WC atau push up. Kalau dia pingsan bisa heboh nasional kayak IPDN dulu.
Jika tetap dibutuhkan sanksi, buatlah sanksi yang mendidik, yang membuat siswa makin pinter. Kalau telat bahasa Indonesia ya suruh ngarang novel. Telat matematika ya kasih soal try out yang banyak. Kalau Biologi ya suruh Google apa saja terkait tema pelajaran. Apa ajalah seputar itu.
Kalau gurunya telat gimana? Gampang ajah, pas rapat dengan kasek suruh dia cerita apa yg membuatnya telat, di depan kolega guru lainnya.

Bagaimana menertibkan guru dan/atau siswa yang “hobi” terlambat ? guru yang terlambat di beri panisment yg bertingkat sampai di nonjobkan, utk siswa jg sama. permasalahnnya pertama gurunya dulu… terus sistem KBM nya, bahwa guru datang di kelas tapi terkadang belum memulai pembelajaran. Diantara panismentnya adalah:

NON FISIK :
1. Buat kalung sanksi utk menumbuhkan budaya malu yang dipakai mulai pagi sampai siang.
a. pakaian tidak rapi
b. terlambat sekolah
c. tdk mengikuti pelajaran, dll M
2. Menulis ayat2 alqur’an sejumlah 100x atau kelipatannya
3. Membayar uang ketidakdisilinan yang berlaku kelipatannya. (atas kesepakatan dg orangtua).
FISIK.
1. Memberishkan WC, bersihkan Kaca sekolah, dll
2. Push up, skotjump, lari lapangan, tahan siku, dll dg jumlah minimal 50X yg itu berlaku kelipatannya.
Insya Allah guru dan murid jadi lebih baik. n jera.
kalau msh tidak jera… kata yg paling pas adalah : *Innalillahi wa inna
ilaihi rojiun*

About Kusdiyono

Guru yang mengajar di SMKN 38 Jakarta mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) dan KKPI (dulu). Tugas tambahan sebagai Wakabid Kesiswaan. Alamat Jl.Kebon Sirih No.98 Jakarta Pusat, telp/fax (021) 3441788/3506191. E-mail : kus_d@yahoo.com , kusdiyono@gmail.com
This entry was posted in Pendidikan. Bookmark the permalink.

One Response to SEKOLAH YANG MENGANCAM…

  1. jumhari "black priok" says:

    Pak Gendon yang baik….
    tiap institusi punya metode dalam menangani suatu permasalahan dan itu otonomi sepanjang dapat dipertanggungjawabkan, efektif dan tidak merendahkan. Bagi sekolah dasarnya adalah mendidik, perbaikan mental dan tidak didasari untuk merendahkan siswa. Di sekoalah kami (SMKN 36) sistem poin telah lama ditinggalkan, berganti sistim SP dan terbukti sangat efektif. ada perbuatan /hal yang tidak dapat ditolerir/ dimaafkan di 36 ; mencuri, berkelahi, loncatpagar dan narkoba, jika ketahuan langsung DIKELUARKAN. 24 kali absen dalam 1 semester juga Drop out, pelanggaran lain yang dilakukan diterapkan SP1, SP2 dan SP3 (terakhir). Jika masih dilakukan siswa di DO. gak perlu hukuman fisik, hukuman administratif terbukti sangat ampuh. Sekolah kami kini menjadi lebih baik, syaratnya seluruh komponen sekolah kompak, jalankan konsep REWARD and PUNISHMENT dan siapkan anak seperti layaknya di dunia kerja…… Maaf dan terimakasih boss…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s