Politik, Bahasa dan Sepak Bola

Sambil belajar “thinkquest” di SMKN 27, membuat postingan dengan judul di atas. Politik pada hakikatnya adalah cara untuk memperoleh ataupun mempertahakan kekuasaan. Untuk memperoleh/mempertahankan kekuasaan banyak cara ditempuh oleh para orang yang bermain dengan politik, baik cara yang halal/yang dibenarkan oleh aturan ataupun cara-cara yang tidak diperkankan oleh aturan. Dalam dunia politik semua sudah paham, bahwa tidak ada yang namanya lawan abadi, yang ada adalah kepentingan abadi. Selama kepentingannya sama, maka masih dianggap sebagai kawan, tapi jika kepetingannya sudah lain/berbeda, maka akan menjadi lawan. Maka berlaku yang namanya “tidak ada kawan dan lawan abadi” dalam politik.

Bahasa, menunjukkan bangsa. Kemajuan peradaban suatu bangsa bisa dilihat dari tutur kata ataupun tulisan-tulisannya.

Lalu, apa kaitannya antara politik, bahasa dan sepakbola ? Saat ini di Indonesia berlangsung 2 kompetsisi, yaitu Liga Super Indonesia (LSI) yang diselenggarakan oleh PSSI dan Liga Primer Indonesia (LPI) yang digagas oleh pengusaha tambang Arifin Panigoro. Dalam pengurus PSSI, yaitu ketuanya Nurdin Halid adalah pengurus partai Golkar, serta ada Nirwan Bakrie, adik dari ketua umum Golkar. Sementara Arifin Panigoro dahulunya adalah politisi PDI Perjuangan. Antara Aburizal Bakrie dan Arifin Panigoro juga bersaing dalam dunia bisnis. Sekarang jadi bersaing dalam politik melalui sepakbola. Pertanyaannya , apakah salah yang mereka lakukan ? Tidak salah, asal tidak merugikan dunia sepakbola di Indonesia, asal sepak bola Indonesia bisa maju dan berjaya di dunia internasional. Seperti Perdana Menteri Italia yang menjadi pemilik klub AC Milan.

Lalu apa kaitannya antara bahasa dan sepakbola ? Kita tentu masih ingat pada masa pemerintahan presiden Soeharto yang semua nama-nama menggunakan bahasa asing harus diganti dengan bahasa Indonesia. Seperti “Jakarta Theatre” diubah menjadi “Teater Jakarta”…nama-nama klub sepakbola juga dalam bahasa Indonesia. Tapi apa yang terjadi di LPI,sungguh terbalik, nama-nama klub banyak yang menggunakan bahasa asing (Inggris), seperti “Manado United”, “dewata FC”, dsb….

Secara tidak langsung telah terjadi imperialisme (penjajahan) dalam bahasa Indonesia kita oleh bahasa Inggris, yang tentu saja secara tidak langsung akan berdampak ke aspek yang lain….Tapi benarkah semua analisa saya ini ?Hanya Allah yang tahu…

About Kusdiyono

Guru yang mengajar di SMKN 38 Jakarta mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) dan KKPI (dulu). Tugas tambahan sebagai Wakabid Kesiswaan. Alamat Jl.Kebon Sirih No.98 Jakarta Pusat, telp/fax (021) 3441788/3506191. E-mail : kus_d@yahoo.com , kusdiyono@gmail.com
This entry was posted in Politik and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Politik, Bahasa dan Sepak Bola

  1. morin says:

    seandainya LSI dan LPI bisa bersatu . Mungkin liga indonesia bisa setara dengan kompetisi luar.
    Para pemilik LSI dan LPI bersatu mmbangun infrastruktur sepakbola yg layak. Lebih prioritas kepada pemain lokal yg kompetitif .tidak secara instan melalui naturalisasi.

  2. Para klub sebenarx harus berbesar hati menerima kebijakan pssi yg menjadikan LPI sebagai liga yg legal…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s