Kalender Al Manshuriah

Kontribusi Ulama Betawi Terhadap Ilmu Falak

Di Indonesia, perbedaan penentuan awal Ramadhan, Idul Fithri atau Idul Adha selalu terjadi. Tidak terkecuali pada penentuan awal Ramadhan 1433 H ini. Muara perbedaan terletak pada penggunaan pendekatan dan metodologinya…utamanya antara hisab dan rukyat, yang masing-masing memiliki landasan teologis dan epistimologis yang kuat serta memiliki sejarah yang panjang dalam peradaban Islam.

Khusus di Betawi, ada dua ulama ahli falak yang pendapat dan hasil pemikirannya telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu falak di Indonesia dan sampai saat ini masih digunakan dan diajarkan oleh para penerusnya, yaitu Guru Manshur Jembatan Lima dengan metode hisabnya dan Syaikh KH. Mohammad Muhadjirin Amsar Ad-Dary yang lebih menonjolkan metode rukyatnya dari pada metode hisabnya.
Guru Manshur Jembatan Lima
Nama lengkapnya Muhammad Manshur bin Abdul Hamid bin Damiri bin Abdul Muhid bin Tumenggung Tjakra Jaya ( Mataram, Jawa) lahir di Jakarta pada tahun 1878 dan wafat pada hari Jum`at, 2 Shafar tahun 1387H bertepatan dengan tanggal 12 Mei 1967. Guru pertamanya dalam menuntut ilmu adalah bapaknya sendiri, KH. Abdul Hamid. Setelah dewasa, ia pergi ke Mekkah, Arab Saudi dan belajar Ilmu Falak kepada Abdurrahman Misri, ulama asal Mesir dan Ulugh Bek, ulama asal Samarkand.
Setelah empat tahun di Mekkah, ia kembali ke tanah air dan membuka majelis ta`lim, yang utama diajarkannya adalah pelajaran ilmu falak. Murid-muridnya yang kemudian menjadi ulama terkemuka di Betawi adalah KH. Abdullah Syafi`i ( As-Syafi`iyyah) dan Mu`allim KH. Abdul Rasyid Ramli (Ar-Rasyidiyyah). Kini yang meneruskan keahlian falaknya adalah KH. Fatahillah Ahmadi yang merupakan salah seorang buyutnya. Sedangkan buyutnya yang lain yang kini dikenal oleh masyarakat sebagai da`i kondang adalah Ustadz Yusuf Manshur.
Salah seorang cucunya, KH. Ahmadi Muhammad, menyusun kalender hisab Al-Manshuriyah dimana susunan tersebut bersumber dari hasil pemikiran Guru Manshur. Kini, kalender hisab Al-Manshuriyah masih tetap eksis dan digunakan, baik oleh murid-muridnya maupun oleh sebagian masyarakat Betawi maupun umat Islam lainnya di sekitar Jabotabek, Pandegelang, Tasikmalaya, bahkan sampai ke Malaysia.

Syaikh KH. Muhammad Muhadjirin Amsar Ad-Dary

Syaikh KH. Mohammad Muhadjirin Amsar Ad-Dary dilahirkan di Kampung Baru, sebuah daerah di pinggir kota Jakarta pada tanggal 10 November 1924. di Kampung Baru inilah ia menghabiskan masa kecilnya dengan belajar mengenal huruf Arab sampai dengan membaca Al-Qur`an.

Menginjak remaja dan selama di tanah air, ia menuntut ilmu kepada kepada banyak guru, yaitu: Guru Asmat, H. Mukhoyyar, mu`alim H. Ahmad, mu`alim KH. Hasbialloh (pendiri Yayasan Al-Wathoniyah), mu`alim H. Anwar, H. Hasan Murtaha, syekh Muhammad Tohir, Ahmad bin Muhammad murid dari Syekh Mansyur Al-Falaky, KH. Sholeh Ma`mun (Banten), Syeikh Abdul Majid, dan Assayyid Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi.
Kemudian, ia melanjutkan pendidikan formalnya di Daarul Ulum Ad-Diniyah, Makkah Al-Mukaromah, Arab Saudi dari tahun 1949 sampai dengan tahun 1955. Selama di Makkah, ia juga mengikuti pendidikan di Masjidil Haram dan setiap musim panas di Masjid Nabawi.
Sumbangan pemikirannya yang paling berharga adalah dalam hal ilmu falak. Ia membuat teknologi dan tempat rukyatul hilal sendiri untuk melihat penampakan hilal (bulan sabit pertama) sesaat sesudah matahari terbenam sebagai tanda dimulainya hari pertama dari bulan-bulan dalam kalender hijriyah atau untuk menentukan hari raya, seperti Idul Fithri dan Idul Adha. Pelaksanaan rukyatul hilal dengan alat buatannya, terutama untuk menentukan awal Ramadhan, Idul Fithri dan Idul Adha dilakukan selama bertahun-tahun bertempat di Menara Masjid Al-Husna, Cakung, Jakarta Timur. Hasil pengamatannya lambat laun menjadi rujukan banyak pihak, terutama umat Islam yang berada di sekitar Cakung dan Bekasi.
Bahkan pada bulan Februari 2002, penetapan awal bulan Dzulhijah 1422H untuk menentukan Idul Adha pada sidang itsbat yang dipimpin Menteri Agama Prof.Dr.H. Said Agil Husin Almunawar di Departemen Agama, Jakarta dan dihadiri anggota Badan Hisab Rukyat Departemen Agama, wakil-wakil dari organisasi massa Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan instansi terkait seperti Badan Meteorologi dan Geofisika, Dinas Hidro Oceanografi Mabes TNI Angkatan Laut, dan Planetarium Jakarta didasarkan pada hasil rukyatul hilal Tim Cakung (santri-santri binaan Syekh. KH. Mohammad Muhadjrin Amsar Ad-Dary).

Yang mengagumkan, hasil rukyatul hilal Tim Cakung ini sesuai dengan hasil hisab yang dilakukan oleh berbagai lembaga atau ormas Islam, antara lain Almanak Menara Kudus, Almanak Muhammadiyah, Persis dan Al Irsyad, kalender Ummul Quro Makkah, Kalender PBNU, dan Kalender DDII. Setelah beliau wafat pada tanggal 31 Januari 2003, Tim Cakung yang setia mengikuti ajaran falaknya tetap eksis dan masih menjadi rujukan di tingkat lokal maupun nasional. Selain itu, menara Masjid Al-Husna, Cakung diakui sebagai salah satu dari Pos Observasi Bulan (POB) di Indonesia.

Sumber : http://www.islamic-center.or.id/

About Kusdiyono

Guru yang mengajar di SMKN 38 Jakarta mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) dan KKPI (dulu). Tugas tambahan sebagai Wakabid Kesiswaan. Alamat Jl.Kebon Sirih No.98 Jakarta Pusat, telp/fax (021) 3441788/3506191. E-mail : kus_d@yahoo.com , kusdiyono@gmail.com
This entry was posted in Agama and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s