Agustusan dan Lebaran

Dalam 3 tahun terakhir bulan Ramadhan (puasa) jatuh di bulan Juli – Agustus, bahkan tahun depan (2013) juga masih di bulan Agustus.  Ada satu momen yang sedikit berkurang, yaitu peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Biasanya peringatan HUT kemerdekaan dilaksanakan secara murah, meriah, massal, menyenangkan dan menghibur (5M).

Tahun 2011 peringatan HUT kemerdekaan dilaksanakan sebelum datangnya bulan Ramadhan 1432 H. Namun tahun ini (2012), Ramadhan jatuh pada tanggal 20 Juli, sepuluh hari sebelum masuk bulan Agustus. Hampir di semua tempat di Indonesia tidak ada peringatan HUT kemerdekaan yang mengandung unsur “5M” tadi, termasuk di sekolah – sekolah . Peringatan kemerdekaan Indonesia tahun ini cukup diperingati dengan membaca doa, tahlil, tahmid dan membaca surat Yasin sekaligus berbuka bersama pada hari Jumat, 17 Agustus 2012. Menjerit para pedagang bendera, pedagang pinang, pedagang umbul – umbul, yang biasanya meraih untung tahunan karena pada tahun ini sangat sepi pembeli. Boro – boro untung, kembali modal saja sudah bersyukur. Masyarakat lebih memilih kebutuhan untuk lebaran, daripada untuk “agustusan”, sesuatu yang realistis di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.

Upacara bendera  dilakukan 2 hari menjelang Idul Fitri 1433 H. Bagi pegawai negeri tidak sedikit yang keberatan untuk mengikutinya, terutama bagi mereka yang sudah memesan tiket pulang kampung jauh hari sebelumnya. Begitu pula bagi para pelajar yang tidak sedikit pula yang mudik mengikuti orang tua / walinya. Dilema tersendiri bagi sekolah (terutama negeri) yang “wajib” mengadakan kegiatan seremonial upacara bendera, di tengah kondisi guru, karyawan bahkan siswanya yang sebagian sudah berada di kampong halaman masing – masing. Atau mereka diminta untuk mengikuti upacara bendera di sekolah yang berada di kampong halaman masing – masing, disertai dengan bukti fisik bahwa mereka mengikutinya.

Kondisi saat ini sangat terbalik dengan kondisi 67 tahun yang lalu. Saat ini proklamasi diucapkan dalam kondisi puasa di bulan Ramadhan 1366 H atau 1945 M. Para pemimpin kita saat itu juga berpuasa, mengibarkan bendera, berjuang. Tidak ada satu pun yang berpikir untuk “pulang kampung/mudik”. Bahkan golongan muda yang dipelopori Sukarni mendesak pada Ir.Soekarno untuk segera memerdekakan Indonesia sebelum 17 Agustus 1945 (peristiwa Rengas dengklok)

Memang, nasionalisme tidak bisa hanya dinilai dari ikut/mengadakan upacara bendera 17 Agustus atau tidak. Nasionalisme masih bisa dinilai, diterapkan dalam berbagai bentuk. Upacara bendera hanya satu cara (kecil) untuk menilai nasionalime yang kita miliki. Minimal penghargaan kita terhadap apa yang telah dilakukan oleh pada pendiri bangsa ini 67 tahun yang lalu. Selamat Ulang Tahun untuk Negeriku tercinta Indonesia, semoga engkau semakin jaya dan bisa terbebas dari Korupsi, Narkoba, Sekulerisme dan Berjaya di semua bidang di dunia. “MERDEKA” !

About Kusdiyono

Guru yang mengajar di SMKN 38 Jakarta mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) dan KKPI (dulu). Tugas tambahan sebagai Wakabid Kesiswaan. Alamat Jl.Kebon Sirih No.98 Jakarta Pusat, telp/fax (021) 3441788/3506191. E-mail : kus_d@yahoo.com , kusdiyono@gmail.com
This entry was posted in Kewarganegaraan, Politik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s