Budaya “Priyayi” Memberangus Pancasila

Tulisan ini saya kutip lebih tepat ambil dari : http://psp.ugm.ac.id/budaya-priyayi-memberangus-pancasila.html

Ada satu permasalahan besar yang masih dihadapi oleh bangsa dan negara Indonesia dalam membumikan Pancasila, yakni masalah pengimplementasiannya. Dan, faktor utama pendukung ketidakberhasilan dalam melakukan implementasi nilai-nilai Pancasila ini adanya semangat egoisme yang diusung oleh sebagian besar anak bangsa. Demikian diungkapkan Surono dalam Seminar sehari yang mengambil tema “Dinamisasi Upaya Menuju Revitalisasi Pengamalan Nilai-nilai Luhur Pancasila Kepada Masyarakat di Era Reformasi. diselenggarakan oleh Dirjen Kesbangpol Kementerian Dalam Negeri RI  di  Panti Asuhan Yatim Amanah Trimulyo Bantul.

Dalam makalahnya yang berjudul “Implementasi Nilai-nilai Luhur Pancasila dalam Kegiatan Sosial: Memecah Batukarang Egoisme”, Surono lebih lanjut menyatakan bahwa sikap egoisme bangsa Indonesia saat ini semakin lama semakin ngrembaka (berkembang subur). Secara kultural berkembangnya sikap egoisme ini sangat dipengaruhi oleh keinginan sebagian besar masyarakat Indonesia untuk menjadi “Priyayi”. Selalu ingin menjadi yang pertama. Selalu ingin dilayani. Selalu menganggap orang lain tidak lebih penting daripada dirinya sendiri. Menjilat yang di atasnya dan menggencet yang berada dibawahnya. Selalu ingin di subya-subya. Dalam bahasa Antropologi dikatakan sebagai etnosentrisme.

Maraknya egoisme ini bukan terjadi secara tiba-tiba tetapi tidak bisa terlepaskan dari proses pendidikan yang terstruktur dan terorganisir mulai dari keluarga, lingkungan, sekolah, sampai dan tingkat negara. Pada tingkat keluarga, internalisasi nilai-nilai egoisme sudah dilakukan sejak kecil ketika para ibu dengan berani memutuskan untuk memberikan minuman susu formula kepada anaknya meski baru berusia beberapa hari, kemudian dilanjutkan dengan membelikan mainan kepada anak-anak mereka sejumlah anak yang ada. Dengan alasan supaya tidak ribut. Padahal dengan membelikan satu mainan untuk dipakai bersama-sama merupakan langkah luar biasa yang bisa membangun kebersamaan dan toleransi.

Pada level lingkungan, saat ini budaya mengganti gotong royong dengan uang pengganti kehadiran ataupun mengganti jimpitan dengan iuran bulanan juga merupakan salah satu dari sekian banyak pembumian nilai-nilai egoisme. Di tingkat pendidikan, pengadaan kelas-kelas internasional, kelas-kelas akselerasi, mendirikan sekolah RSBI, sampai dengan menerapkan pendidikan (kurikulum) berbasis persaingan tidak terbantahkan lagi juga menjadi lahan subur untuk menyemai benih-benih egoisme. Pada tingkat yang paling atas, yakni negara,  tidak bisa dipungkiri lagi bahwa negara telah mengajarkan kepada masyarakat bagaimana menjadi orang yang paling egois. Dengan melakukan pengkotak-kotakan fungsi lembaga-lembaga/ institusi-institusi pemerintah dengan cenderung mengabaikan adanya kerjasama lintas sektoral.

Surono menyarankan agar dihidupkan/.direvitalisasi kembali kearifan-kearifan lokal masyarakat Indonesia dan mengembangkan sikap tepa slira terutama melalui institusi pendidikan baik formal maupun informal.

About Kusdiyono

Guru yang mengajar di SMKN 38 Jakarta mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) dan KKPI (dulu). Tugas tambahan sebagai Wakabid Kesiswaan. Alamat Jl.Kebon Sirih No.98 Jakarta Pusat, telp/fax (021) 3441788/3506191. E-mail : kus_d@yahoo.com , kusdiyono@gmail.com
This entry was posted in Kewarganegaraan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s