Uniknya Pilpres di AS

Rakyat Amerika Serikat akan menggunakan hak suara mereka dalam pemilihan presiden (pilpres) pada 6 November untuk menentukan presiden AS yang baru. Tapi tahukah Anda, rakyat AS sebenarnya tidak secara langsung memilih presiden dan wakil presiden mereka?

Dengan sistem pemilu AS yang unik, seperti dilansir AFP, Senin (5/11/2012), sebenarnya secara teknis rakyat AS hanya memilih ‘elector’ dalam Electoral College, yang nantinya akan memilih langsung Presiden dan Wakil Presiden AS yang baru. Electoral College merupakan institusi yang bertugas memilih Presiden dan Wakil Presiden AS secara langsung, setiap 4 tahun sekali.

Para anggota Electoral College dibedakan berdasarkan negara bagian di AS, plus Distrik Columbia (DC). Total ada 538 anggota Electoral College di AS, yang terdiri atas 435 anggota DPR AS dan 100 anggota Senat AS, serta 3 pemilih dari Distrik Columbia (DC).

Setiap negara bagian AS, termasuk DC, memiliki minimum 3 suara Electoral College. Semakin besar populasi negara bagian tersebut, semakin banyak suara Electoral College-nya.

Seperti negara bagian California yang memiliki 55 suara Electoral College, Texas dengan 38 suara, serta New York dan Florida yang sama-sama memiliki 29 suara. Keempat negara bagian dengan suara Electoral College terbanyak tersebut seringkali menjadi rebutan kedua kandidat.

Dalam sistem pemilu AS, ada sekitar 40 negara bagian AS sudah bisa dibaca posisinya apakah akan dimenangkan oleh Partai Demokrat atau Partai Republik. Yang menjadi pertarungan kedua kandidat ada pada ‘swing states’ atau negara-negara bagian yang dipenuhi ‘swing voters’, yakni para pemilih yang masih belum menentukan atau belum yakin dengan pilihan mereka dalam pilpres.

Negara bagian Florida menjadi ‘swing state’ terbesar dengan 29 suara Electoral College. Disusul Ohio dengan 18 suara, North Carolina dengan 15 suara dan Virginia dengan 13 suara. Kandidat yang berhasil memenangkan suara populer di masing-masing negara bagian, berhak meraih seluruh suara Electoral College, atau biasa disebut dengan istilah ‘the winner takes all’.

Dalam pilpres AS ini, kedua kandidat akan memperebutkan 538 suara anggota Electoral College. Untuk menjadi pemenang, capres AS harus meraih total 270 suara Electoral College dari 50 negara bagian AS. Jika terjadi kondisi imbang atau seri, yakni masing-masing capres berhasil meraih 269 suara Electoral Vote, maka pihak DPR AS yang kini didominasi Partai Republik, akan memilih langsung presiden AS.

Setelah pemungutan suara selesai, para elector (orang yang memiliki mandat atas suara pemilu/electoral votes) akan menggelar konvensi di ibukota negara bagian untuk memberikan suara mereka. Dalam pertemuan yang akan berlangsung pada 17 Desember 2012 inilah pilpres benar-benar digelar secara langsung. Mereka akan secara resmi memilih presiden dan wakil presiden AS.

Nah, siapa saja yang bisa menjadi elector? Pemegang electoral votes alias elector diangkat oleh dewan pimpinan partai di tingkat negara bagian. Penetapannya dilakukan dengan mempertimbangkan loyalitas kepada partai dan diyakini tidak akan mengkhianati suara rakyat dan suara partai yang diwakilinya.

Para elector dipilih oleh partai sebelum pemilu berlangsung, dengan waktu yang berbeda-beda di setiap negara bagian. Juga tidak ada pengumuman resmi dari partai terkait proses penetapan atau pengangkatan elector.

Banyak kritikan terhadap sistem pilpres AS yang unik ini. Para pengamat menilai, sistem Electoral College tersebut tidak merefleksikan keinginan atau aspirasi rakyat AS yang sebenarnya. Sebabnya, saat konvensi Electoral College berlangsung, banyak hal bisa terjadi. Ini dikarenakan tidak ada ketentuan yang mewajibkan elector memberikan pilihan yang sama dengan amanat partai dan konstituennya.

Dalam Electoral College, negara bagian boleh meminta ataupun tidak meminta para elector memilih berdasarkan hasil pilpres. Jadi setiap elector bisa saja memilih capres yang berbeda dari capres pilihan mayoritas rakyat di tingkat negara bagian.

Hal inilah yang terjadi pada pilpres tahun 2000 lalu, ketika kandidat Demokrat Al Gore memenangkan suara populer nasional (popular vote). Namun ternyata kandidat Republik George W Bush mampu meraih suara Electoral College lebih banyak, yakni 271 suara, sehingga akhirnya dia terpilih menjadi Presiden AS.

Namun para pendukung sistem Electoral College berargumen bahwa sistem pemilu langsung yang memperbolehkan rakyat memilih langsung presiden dan wakil presiden mereka, tidak adil bagi kesejahteraan rakyat. Karena nantinya wilayah yang padat penduduk yang memiliki suara lebih banyak, akan lebih diperhatikan daripada wilayah yang sedikit penduduknya dengan suara yang lebih sedikit.

Dikutip dari : http://news.detik.com/read/2012/11/05/124401/2081571/1148/uniknya-pilpres-as-harus-raih-270-suara-electoral-college-untuk-menang

About Kusdiyono

Guru yang mengajar di SMKN 38 Jakarta mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) dan KKPI (dulu). Tugas tambahan sebagai Wakabid Kesiswaan. Alamat Jl.Kebon Sirih No.98 Jakarta Pusat, telp/fax (021) 3441788/3506191. E-mail : kus_d@yahoo.com , kusdiyono@gmail.com
This entry was posted in Politik and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s