Kantin Kejujurana

Awal mula nama tersebut muncul dengan sambutan yang luar biasa. Maksud awal sangat mulia, sebab ide kantin kejujuran dari lembaga pendidikan, yaitu sekolah. Bahkan ada lembaga  yang memberikan reward sampai bantuan. Namun, seiring perjalan waktu, nama “kantin kejujuran” semakin tidak terdengar. Bahkan hampir tak terdengar. Berbagai kantin kejujuran yang ada justru mengalami nasib memprihatinkan, yaitu kebangkrutan. Penyebabnya justru karena ketidakjujuran dari para pembeli ataupun para pengelola kantin.

kantin_jujurTragis, memprihatinkan, justru di lembaga pendidikan ketidakjujuran yang semula diharapkan berdampak lebih besar malah ikut hilang. Kita bayangkan seandainya di Ibukota, Jakarta ada 1000 kantin kejujuran, lalu di setiap kantin kejujuran ada pembeli 100 orang, maka dapat diasumsikan akan ada 100.000 orang yang berperilaku jujur dalam setiap transaksi yang ia lakukan. Kemudian dikalikan 20 hari kerja, maka akan ada 200.000 orang yang berperilaku jujur dalam bertransaksi/berdagang. Jika hal ini berlanjut pada tataran yang lebih luas dan jauh, maka dampaknya tentu luar biasa buat bangsa dan negara.

Namun, sebaliknya jika ternyata kemudian kantin kejujuran mengalami kebangkrutan karena ketidakjujuran pembeli ataupun pengelolanya, maka hal sebaliknya yang akan terjadi…..Mudah-mudahan para pemegang kebijakan bisa memberikan solusi untuk kemajuan anak-anak di negeri ini. Salam kejujuran

Advertisements

About Kusdiyono

Pada awalnya saya mengajar dan mengabdi pada SMK Negeri 38 Jakarta. Mata pelajaran yang saya ampu adalah Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) dan KKPI. Seiring perjalanan waktu, pengabdian saya membuahkan hasil, yakni dengan diangkatnya saya menjadi CPNS dan PNS. Selama di SMK Negeri 38 berbagai tugas tambahan diamanahkan pada saya, antara lain sebagai Kepala Lab Komputer, Kepala Perpustakaan, Pembina OSIS, Waka Kurikulum dan terakhir Waka Kesiswaan, Berbagai macam tugas tambahan tersebut tentu saja tidak diemban secara bersamaan, sangat tidak mungkin. Namun secara rotasi alias bergantian dengan sobat - sobat guru yang lain di 38. Waktu terus berjalan, deru perubahan dunia pendidikan juga demikian, tak terkecuali di SMK Negeri 38 Jakarta. Sayapun merotasi/memutasi diri ke Sekolah baru, tempat baru, yakni SMK Negeri 16 Jakarta, sejak Juli 2016 sampai dengan saat ini. Tidak berbeda dengan di 38, di SMK Negeri 16 saat ini saya diberikan tugas tambahan kembali sebagai Kepala Perpustakaan. Menikmati hidup, tidak "ngoyo", dan berusaha tidak menyakiti siapapun, sebab 1000 teman terlalu sedikit dan satu musuh terlalu dan amat banyak....
This entry was posted in Kewarganegaraan, Pendidikan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s