Membangun Karakter Kebangsaan (di kelas)

Posted on

Berikut ini adalah slide power point yg berisi tentang apa yang saya lakukan selama ini di kelas, terutama pada mata pelajaran PKn. bagi pembaca yang berminat bisa membuka atau mengikutinya, atau jika ada yang kurang berkenan/saran/kritik terhadap apa yang saya kerjakan, dengan senang hati saya bersedia untuk mengoreksi diri….Salam kebangsaaan !…..Maaf slidenya belum bisa di upload

 

Pembelajaran dan Pemelajaran

Posted on

Anton M. Moeliono – Kompas, 26 Juli 2003

Dewasa ini orang banyak memakai kata pembelajaran sebagai padanan istilah bahasa Inggris learning. Apakah pembelajaran itu memang mengacu ke perbuatan atau proses belajar? Sebagai bandingan, marilah kita perhatikan beberapa bentuk yang sejajar. Akan jelas nanti apakah kita taat asas dalam penerapan kaidah bahasa, atau justru menyimpang.

antonTugas menteri pemberdayaan perempuan ialah memberdayakan kaum wanita. Pemberangkatan calon haji mengacu ke usaha memberangkatkan jemaah itu. Pemberhentian karyawan yang mbalelo bermaksud tindakan memberhentikan pegawai yang membangkang itu. Ada pertalian makna antar nomina dan verba yang berimbuhan itu. Nomina berimbuhan yang berbentuk pember-an menyebabkan atau menjadikan sesuatu yang dinyatakan oleh verba yang berimbuhan member-kan. Pemberdayaan berarti menyebabkan atau menjadikan berdaya. Pemberangkatan berarti menyebabkan atau menjadikan berangkat. Pemberhentian menyebabkan atau menjadikan berhenti.

Menurut pola tadi, pembelajaran harus ditafsirkan ‘menjadikan atau menyebabkan belajar’. Tentu saja yang belajar itu orang, bukan maujud (entity). Yang tidak bernyawa. Menurut sejarah pembentukannya memang itu yang dimaksudkan.

Istilah pembelajaran mula-mula muncul di kalangan ahli pendidikan IKIP Jakarta yang ingin membedakan teaching dari instruction. Karena teaching dianggap berorientasi kepada guru, sedangkan instruction berorientasi kepada pelajar, timbullah gagasan untuk memakai pasangan pengajaran dan pembelajaran. Yang pertama mengacu ke perbuatan mengajar, dan yang kedua mengacu ke tindakan membelajarkan, atau menyebabkan orang belajar.

Jika orang yang mengajar disebut pengajar, maka orang yang membelajarkan akan disebut pembelajar. Dialah yang di dalam bahasa Inggris disebut instructor. Lalu bagaimana kita menyebut orang yang belajar? Tentu saja pelajar. Apakah pelajar sama dengan learner? Rupanya di Indonesia tidak selalu demikian. Ternyata ada kepekaan sosial terhadap hierarki golongan pelajar di antara kita. Ada istilah murid yang mengacu ke pelajar TK dan SD. Ada pelajar yang biasanya merupakan sebutan untuk mereka yang duduk di SLTP, sedangkan siswa dipakai untuk remaja yang belajar di peringkat SMU. Kata mahasiswa menunjuk ke pelajar yang satu tingkat di atas golongan siswa dan mula-mula hanya dipakai untuk orang yang belajar di perguruan tinggi program pendidikan sarjana. Ketika program pascasarjana diresmikan ada peserta yang berkeberatan disebut mahasiswa karena merasa dirinya sudah menjadi sarjana dan bukan mahasiswa lagi. Mungkin kenyataan itu menjadi sebab mengapa diciptakan istilah peserta didik untuk memayungi semua golongan pelajar.

Dengan latar belakang itu juga dapat dipahami mengapa istilah learner dahulu tidak dipadankan dengan istilah pelajar karena medan pengacuannya berbeda. Sebenarnya frasa Inggris teaching-learning process pernah dipadankan dengan proses mengajar-belajar atau proses belajar-mengajar yang tidak menimbulkan salah paham atau protes. Kita juga sudah memadankan distant learning dengan belajar jarak jauh.

Bentuk belajar sebagai salah satu padanan learning rasanya wajar sebagaimana kita juga menyebut mata pelajaran lain dengan bentuk verba, seperti Berhitung, Menulis, Membaca, dan bukan Penghitungan, Penulisan, Pembacaan. Bentuk verba itu rupanya merupakan terjemahan dari bahasa Belanda – rekenen, schrijven, dan lezen – dan bukan bahasa Inggris. Sekarang masa jayanya untuk bentuk dengan akhiran –ing seperti reading dan writing.

Di samping membelajarkan yang berobyek orang, ada mempelajari yang berobyek barang, bahasa, sifat, dan hal. Jika kita mengikuti paradigma bentuk turunan kata Indonesia, maka pelaku mempelajari ialah pemelajar dan perbuatan atau prosesnya: pemelajaran. Pemelajar dan pemelajaran merupakan padanan alternatif untuk learner dan learning. Sebelumnya kita sudah memakai pemeroleh dan pemerolehan (bahasa) untuk acquisition serta pemercepat dan pemercepatan untuk acceleration.

Selain rangkaian belajar, pelajar, dan pelajaran, perkembangan zaman dan pengalaman menciptakan keperluan untuk paradigma baru. Yang pertama pembelajaran ‘instruction’, dan pembelajar ‘instructor’, dan kedua, pemelajaran ‘learning’ dan pemelajar ‘learner’.

Kita harus berani merevisi salah kaprah.

KANGENNYA KITA ….

Posted on Updated on

Oleh Raziq Ashar (Alumni 2013)

Kita pasti akan kangen senyumnya Pak Agus di pagi hari yang sunyi …

Kita pasti akan kangen sama guru – guru yang rela datang pagi ke sekolah demi menyambut kita – kita dengan senyum manisnya…

Kita pasti akan kangen sama kantin sekolah yang besarnya melebihi sekolah kita….yang dihuni oleh 3 jajajan, melebihi jajanan yang ada di food court yang ada di mal besar…

Kita pasti akan kangen sama mienya Ibenk..Nasi begono plus gorengan angetnya Mbak kantin… dan roti goring, sosis pembalut mienya Jon…O iya, lupa minuman seger yang itu – itu saja …hehehe..(esteh-es susu-es strawberry atau es melon). Makasih ya Jo, Ibenk, sama mbak kantin yang udah ngisi perut kita supaya nggak kelaperan pas istirahat…

Kita pasti kangen sama lorong SMK 38 yang sempit.

Banyak kenangan indah bagi kita semua di lorong yang menurut kami sangat besar dan di lorong itu pula kami para senior suka tebar pesona sama adek – adek kelas kita yang cantik dan ganteng disaat jam istirahat atau jam isoma.

Kita pasti kangen sama ruang praktek kita yang telah menemani kita selama 2 setengah tahun… di ruang praktek itu pula, kami suka bercanda dan bergembira bersama teman – teman dari hal – hal yang tidak lucu sampai hal – hal lucunya melewati batas normal.

Kita pasti akan kangen suasana kelas yang sedang gak ada guru atau biasa kita sebut dengan jam kosong.

Kita pasti akan kangen dengan tingkah – tingkah temen kita di saat jam kosong…Ada yang dengerin music pake headset, ada yang ngobrol, ada yang bercanda, ada yang tidur, ada yang sibuk bisnis xxx, ada juga yang belajar.

Dan intinya…kita semua pasti akan kangen dengan semua hal – hal yang ada di Republik Tiga Delapan (REPTIL)…. 

Doa Perpisahan Kelas…

Posted on

Doa ini dipanjatkan sesuai dengan agama Islam, bagi yang beragama lain dipersilahkan sesuai dengan agama masing – masing. Diawali dan diakhiri dengan lafadz dalam bahasa Arab. Teks berikut hanya dalam bahasa Indonesia, dan bisa dikembangkan masing-masing.

Allahuma ya.. dzal jalaali wal ikraam

Segala puji syukur kami persembahkan ke hadirat-MU ya Allah, atas limpahan rahmat dan perlindungan kepada kami, kami memohon kepada-MU, semoga Diperkukuhkan dalam ikatan, dipereratkan dalam tali persaudaraan, dan diperkuatkan dalam keazaman, hasrat dan cita cita kami agar senantiasa mendapat keridhoan-MU.

Ya Allah, pada hari ini kami melaksanakan kegiatan pelepasan dan penyerahan kembali siswa-siswa kami pada orang tua mereka,  Berkahilah seluruh panitia,  peserta serta para undangan yang hadir pada saat ini. Ampunkan kami jika ditengah kegiatan ini ada kelalaian, kealpaan dan kekhilafan baik yang tidak disengaja ataupun yang terjadi diluar kemampuan kami untuk mencegahnya. Mudahkan segala urusan kami, ya Rabb, bimbinglah kami agar senantiasa berjalan di atas jalan-Mu yang lurus.

Ya Allah, Ya Rabb…

Kami  memohon kasih sayang-MU, agar jiwa dan kehidupan kami, senantiasa dalam ketenangan dan kebahagiaan dalam menjalankan kewajiban kewajiban kami, sampai pada akhirnya kami dapat menyelesaikan segala amanah yang dibebankan di pundak kami.

Ya Allah, Engkaulah sumber segala ilmu, telah banyak ilmu yang kami dapatkan dari sekolah  ini, banyak pula pengalaman yang kami simpan, dan kenangan indah yang kami rasakan. Untuk itu Ya Allah, berkahilah sekolah kami ini, Segenap guru dan  karyawan,  siswa-siswi serta alumni, yang masih Kau beri waktu di dunia ini ataupun yang telah mendahului kami, dan tak lupa seluruh orang tua yang telah berjuang sekuat tenaga dan upaya menunaikan kewajibannya, berjibaku mengantarkan anak-anak ini dengan satu asa yang mulia.

” Ya Allah, wujudkanlah  hati-hati ini senantiasa berhimpun dalam kecintaan kepada-Mu. Berjumpa dalam mentaati-Mu, dan bersatu dalam dakwah kepada-Mu, serta  terjalin dalam membela syariat-Mu.

Ya , Allah hidupkan kami dalam iman dan matikanlah kami dalam iman. Bimbinglah kami agar senantiasa dalam jalan-Mu,  penuhilah hati ini dengan cahaya-Mu yang tidak pernah sirna; lapangkanlah dada kami dengan limpahan iman kepada-Mu dan, Indahnya kepasrahan kepada- Mu; hidupkanlah kami dengan bermakrifah kepada-Mu; dan matikanlah kami diatas kesyahidan di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik penolong

Ya ilahi,

mudahkanlah kami dalam mencapai tujuan yang telah direncanakan.Bimbinglah kami, agar kami dapat melanjutkan amanah amanah yang berada di pundak kami, dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab.

Ya illahi, Jadikanlah ikatan di antara kami ini sbagai ikatan yang dirahmati, dan perpisahan kami ini sebagai suatu perpisahan yang Engkau berkahi.

Ya Allah,  panjangkanlah umur anak didik kami yang hadir pada hari ini dalam kesehatan dan keberkahan-Mu. Sehingga mereka bisa menggapai, cita – citanya serta menjadi anak yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa…serta membanggakan bagi kedua orang tua mereka…

Kebijakan 1/2 hati…

Posted on Updated on

Ujian Nasional (UN) tingkat SLTA tahun 2013 ini berlangsung secara amburadul. Siswa, guru, sekolah, dan orang tua sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri. Namun kenyataannya bagi sekolah yang mengalami penundaan tentu bukan hal yang menyenangkan. Berbagai kegiatan diadakan oleh sekolah untuk mempersiapkan siswanya. Mulai dari yang masuk akal, sampai yang berbau klenik. Sekedar mengingatkan kembali awal mula adanya UN seperi saya kutip dari http://buku-on-line.com/tentang-un-di-indonesia adalah sebagai berikut :

  1. Tahun 1965-1971, pada tahun ini, sistem ujian dinamakan ujian negara. Hampir berlaku untuk semua mata pelajaran, semua jenjang yang ada di Indonesia, satu komando dan satu kebijakan pemerintah pusat.
  2. Tahun 1972-1979, pada tahun ini, ujian negara ditiadakan, diganti dengan ujian sekolah. Jadi sekolah yang menyelenggarakan ujian sendiri-sendiri. Semuanya diserahkan kepada sekolah, sedangkan pemerintah pusat hanya membuat kebijakan-kebijakan umum terkait dengan ujian yang dilaksanakan.
  3. Tahun 1980-2000, pada tahun ini, untuk mengendalikan, mengevaluasi, dan mengembangkan mutu pendidikan, Ujian sekolah diganti menjadi Evaluasi Belajat Tahap Akhir Nasional (EBTANAS). Dalam ujian ini, dikembangkan perangkat ujian paralale untuk setiap mata pelajaran yang diujikan. Sedangkan terkait denga penggandaan dan monitoring soal dilaksanakan oleh daerah masing-masing.
  4. Tahun 2001-2004, pada tahun ini, EBTANAS diganti menjadi Ujian Akhir Nasional (UNAS). Hal yang menonjol dalam peralihan nama “EBTANAS” menjadi “UNAS” adalah penentuan kelulusan siswa, yaitu Dalam Ebtanas kelulusannya berdasarkan nilai 2 semester raport terakhir dan nilai EBTANAS murni, sedangkan UNAS ditentukan pada mata pelajaran secara individual.
  5. Tahun 2005-2009 ada perubahan sistem yaitu pada target wajib belajar pendidikan (SD/MI/SD-LB/MTs/SMP/SMP-LB/SMA/MA/SMK/SMA-LB) sehingga nilai kelulusan ada target minimal.
  6. Tahun 2010-Sekarang, UNAS diganti menjadi Ujian Nasional (UN). Untuk UN tahun 2012, ada ujian susulan bagi siswa yang tidak lulus UN. Dengan target, para siswa yang ujian dapat mencapai nilai standar minimal UN sehingga dapat lulus UN dengan baik.

Sejak 3-4 tahun yang lalu Bapak Menteri mengatakan bahwa UN bukan satu-satunya penentu kelulusan, masih ada beberapa komponen lain, seperti hasil Ujian Sekolah, akhlak/budi pekerti/tingkah laku. Namun kenyataan berlaku sebaliknya, sebagai contoh :

Di suatu sekolah yang berjumlah 100 siswa, ternyata 2 orang dinyatakan tidak lulus UN. Setelah ditelusuri ternyata keduanya sedang ada masalah pribadi/keluarga saat UN. Nilai raport semester 1 s.d. 5 ternyata pringkat 1.s.d.3, budi pekerti keduanya tidak ada masalah, sehingga rapat dewan guru dan sekolah memutuskan keduanya LULUS. Tapi permasalahan muncul, yaitu ; Ijasah mereka tidak dapat, karena negara hanya mengeluarkan sesuai dengan jumlah siswa yang lulus UN. Sekolah tidak bisa mengeluarkan ijasah sendiri, karena tidak ada peraturannya. Dinas dan peraturan menyatakan keduanya harus mengikuti Paket C kalau mau mendapatkan ijasah….Dilema bagi sekolah dan bukti bahwa kenyataan UN TETAP JADI SATU-SATUNYA penentu kelulusan.

Penulis kurang sependapat kalau UN dihapuskan, UN tetap ada namun jangan dijadikan penentu kelulusan, cukup menjadi pemetaan. Kelulusan serahkan pada guru dan sekolah. Pemerintah tinggal membuat aturan teknis untuk sekolah/dinas/provinsi  yang hasil UN tidak lulus 100%, lalu berubah menjadi lulus 100%. Bagaimana mekanisme, tata cara dan syarat pengajuan pencetakan ijasah, transkrip nilai tambahan.

Jika UN hanya menjadi pemetaan saja, maka kecemasan tahunan tersebut akan jauh berkurang. Siswa akan jujur mengerjakan, tidak perlu mencari bocoran jawaban, tidak perlu mengadakan “ritual-ritual”, tidak perlu pengawas independen. Semoga saja….